Komjen Pol Drs Dharma Pongrekun, MM, MH.
Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN);
Mantan Penyidik Bareskrim Polri yang pernah menangani kasus pencurian pulsa di ruang siber pada 2011.

BISNIS adalah terminologi yang sudah menjadi magnet bagi orang-orang dalam dunia usaha yang mana bertujuan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan cara menyediakan barang dan jasa. Dalam ekonomi kapitalis, di mana kebanyakan bisnis dimiliki oleh pihak swasta, bisnis dibentuk untuk mendapatkan profit untuk meningkatkan kemakmuran para pemiliknya.

Barang atau jasa yang ada dalam bisnis bisa berupa hal yang berwujud (tangible) atau yang tidak berwujud (intangible). Internet sebagai salah satu jasa yang tidak berwujud sehingga ditenggarai rawan terjadinya kejahatan atau penyalahgunaan.

Di era globalisasi saat ini, dunia internet merupakan salah satu bisnis yang terbesar. Kenapa demikian? Karena semua aktivitas kehidupan manusia saat ini dan pada masa mendatang tidak akan bisa lepas dari kebutuhan internet. Aktivitas masyarakat secara tidak sadar digiring secara sistematis, massive dan tepusat pada ruang internet, sehingga hampir tidak satu pun aktivitas kehidupan manusia dapat lolos dari pendulangan pundi-pundi bisnis internet.

Saat ini di seluruh belahan penjuru dunia mulai dari tempat umum, tempat kerja sampai dengan tempat tinggal sudah tersedia layanan internet. Setiap orang mulai dari kalangan atas sampai dengan kalangan bawah, mulai dari orang tua sampai dengan anak kecil, bahkan bayi sekali pun sudah menjadi konsumen dari layanan internet. Akibatnya, internet telah menjadi kebutuhan yang supra primer sehingga membuat aktivitas kehidupan kita menjadi sangat tergantung pada ketersediaan layanan internet.

Baca Juga:  VPN Mampu Berikan Keamanan Tingkat Tinggi Saat Berselancar di Internet

Internet bagaikan denyut nadi (pulse) dalam tubuh manusia. Sama seperti kata “pulsa” sebagai satuan perhitungan biaya pemakaian jasa internet yang banyak menimbulkan persoalan pada konsumennya.

Ruang Siber Rawan Terjadi Manipulasi

Bisnis internet menggunakan mekanisme sistem Teknologi Informasi dan Komunikasi yang menciptakan ruang siber. Ruang siber ini memang pada awalnya terasa memberikan kemudahan, kecepatan, dan kenyamanan bagi penggunanya.

Namun sadarkah kita bahwa sebenarnya ruang siber ini adalah ruang gelap (tidak bisa dilihat kasat mata) yang justru dapat digunakan untuk memanipulasi mindset kita, seolah-olah menjadi sarana mempermudah, cepat dan nyaman, namun sebaliknya kita terjerat oleh pengendalinya tanpa kita sadari?.

Sebagai contoh, sadarkah kita bahwa lokasi di mana kita berada akan mudah dipantau apabila kita menggunakannya. Sudah barang tentu kalau dari awal kita menyadarinya, maka tidak mungkin keadaan kita akan seperti saat ini bagaikan pepatah “maju kena, mundur pun kena”.

Sebenarnya kalau kita jeli dalam memahami ruang siber ini, maka kita akan dengan sangat mudah mendapatkan kesimpulan bahwa ruang siber ini adalah ruang yang disiapkan seolah-olah untuk mempermudah, mempercepat dan nyaman untuk beraktivitas, namun kenyataannya justru menjebak kita dalam persoalan-persoalan yang lebih pelik, bahkan mencengkram dan mengendalikan seluruh aspek kehidupan kita.

Baca Juga:  Biaya Internet Sekolah Online Mahal, Wakil Wali Kota Depok Klaim Mampu Beri Tunjangan

Dalam ruang ini tidak ada yang gratis atau “no free charge”. Setiap aktivitas di internet dapat menjadi data untuk dikumpulkan menjadi pundi-pundi bisnis penguasa internet. Data-data yang dikumpulkan ini menjadi tambang bisnis data yang akan selalu mengisi pundi-pundi bisnis internet.

Di mana pun kita berada pasti selalu mencari jaringan internet, bahkan ketika kuota internet habis, kita menjadi gelisah, bahkan kerap kali menumpang layanan internet pada kawan dekat dengan cara tethering (berbagi koneksi internet).

Pernah ada peristiwa yang menarik bagi saya, ketika saya berada di sebuah kawasan pusat perbelanjaan di Kuala Lumpur, ada bayi menangis dan saya menanyakan kepada orang tuanya, “Kenapa anaknya menangis?” Lalu dijawab oleh orang tuanya, “Dia lagi main game dan kebetulan pulsa gadgetnya habis.”

Dari kisah tersebut menunjukkan bahkan seorang bayi pun bisa dibuat menangis, karena kehabisan pulsa internet. Itu artinya, internet sudah tidak bisa lepas dari kebutuhan manusia. Bisa dilihat betapa internet seperti urat nadi pada kehidupan manusia yang tidak boleh kehilangan denyutnya (pulsa).

Seperti halnya aplikasi yang disediakan gratis di internet, itu pancingan agar konsumen mau mengunduhnya. Namun ketika kita menggunakannya, kita harus terhubung juga dengan internet. Sementara kita tidak pernah tahu bagaimana sistem dalam teknologi tersebut menghitung penggunaan pulsa pada kuota internet yang kita miliki.

Baca Juga:  Telkomsel By.U Luncurkan Paket "Roaming" Internet Rasa Lokal

Bayangkan berapa banyak dan berapa sering kita menggunakan layanan internet dalam setiap aktivitas kita. Semakin banyak kita menggunakan layanan internet, semakin besar pula keuntungan yang didapatkan dari bisnis internet ini.

Kasus Pencurian Pulsa

Pada Oktober 2011, Bareskrim Polri menangani kasus pencurian pulsa yang dialami oleh para konsumen. Dalam kasus ini, konsumen merasa dirugikan karena harus membayar tagihan kartu pascabayar hingga ratusan ribu rupiah setelah registrasi undian berhadiah lewat layanan SMS konten yang disediakan oleh provider yang difasilitasi oleh operator. Kasus ini berjalan selama kurang lebih 6 bulan hingga ditetapkannya dua tersangka oleh Mabes Polri.

Dalam bisnis internet terdapat dua sisi yaitu penyelenggara internet (operator) dan pengguna layanan (konsumen), bisa terjadi kecurangan yang menyebabkan kerugian konsumen. Seharusnya konsumen diberikan kepastian keamanan oleh operator sebagai bagian dari pada perlindungan konsumen, nyatanya operator juga bisa melakukan kejahatan pada konsumen dengan melakukan manipulasi pada sistem yang dibuat oleh mereka sendiri.

Inilah kenyataannya di dalam dunia maya, dimungkinkan terjadinya kejahatan seperti kasus pencurian pulsa tersebut dan tidak mudah pembuktiannya, karena tidak terlihat dengan kasat mata.

Editor : Zen Teguh

Source link