Media sosial dapat menghancurkan tempat wisata. Namun terkadang kekuatan media sosial juga dapat digunakan untuk kebaikan. Bahkan bisa menyelamatkan sebuah desa.

Lima belas tahun yang lalu, desa kecil di Kabupaten Klaten bernama Ponggok, hampir tidak bisa mempertahankan diri. Masyarakatnya berada di garis kemiskinan, kurangnya pendidikan, pengangguran tinggi dan yang beruntung memiliki pekerjaan, memperoleh penghasilan sebagai buruh tani. Apalagi perihal tempat pariwisata, Ponggok bahkan tidak masuk deteksi radar.

Saat ini, Ponggok adalah salah satu desa yang paling makmur di Indonesia, menikmati pendapatan hampir 15 milyar rupiah per tahunnya!.

Kolam Instagram Umbul Ponggok

Apa yang berubah? Secara abstrak, media sosial lah pahlawan mereka. Lebih detailnya, Ponggok berbanah dengan menambahkan daya tarik tersendiri. Sebuah kolam indah bernama Umbul Ponggok dengan sejumlah ikan berwarna-warni ditambah sofa, televisi dan sepeda motor bawah air. Secara keseluruhan, mereka menciptakan latar yang instagrammable bagi pengunjungnya.

Dengan biaya masuk hanya 15 ribu rupiah, pengunjung dipersilahkan menenggelamkan diri untuk melakukan sesi foto menggunakan kamera bawah air, dengan alat peraga dan peralatan snorkeling yang tersedia disewa jika diperlukan. Kolam Instagram ini memiliki akun Instagram sendiri, @Umbul_Pongokk, dengan lebih dari 40.000 follower, dan setidaknya satu penggemar spesialnya adalah presiden Joko Widodo.

Rencana brilian yang membantu merevitalisasi ekonomi dirancang pada 2006 oleh Junaedi Mulyono, kepala desa Ponggok yang baru terpilih. Junaedi Mulyono memperhatikan bahwa meskipun ditutupi lumut, kolam terdekat yang biasa digunakan warga untuk mandi dan mencuci pakaian, mengalir dengan air dari 40 mata air alami. Dia meyakinkan lebih dari setengah 700 keluarga di desa itu untuk berinvestasi di usaha yang mereka namai, Tirta Mandiri; berpusat di kolam tersebut.

Kolam Umbul Ponggok

Pengangguran perlahan dikikis melalui kios-kios yang didirikan di sekitar objek wisata yang menjual cinderamata, pakaian, dan makanan; dan saat ini penduduk desa memiliki hampir 40 persen saham di objek wisata Umbul Panggok; sisanya dimiliki oleh pemerintah.

“Lima tahun lalu, masih ada penduduk desa yang miskin. Tetapi sekarang semua pengangguran telah terserap ke Tirta Mandiri, ”kata Junaedi Mulyano. “Fokus kami adalah untuk memberdayakan orang agar mandiri.”

“Kedatangan wisatawan untuk melihat Umbul Ponggok adalah apa yang membuat ekonomi … tumbuh,” kata Junaedi Mulyono. Terima kasih, Instagrammers!.

Tertarik berkunjung wahai Instagrammers? silahkan kunjungi situs Umbul Ponggok untuk harga tiket, peta lokasi, dan nomor kontak mereka.