Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengembangkan artificial intellegence (AI) atau kecerdasan buatan untuk mendeteksi pneumonia covid-19 pada subjek terduga dan terkonfirmasi terinfeksi virus korona (covid-19). Riset yang dinamai The Fight Covid-19 Study ini berkolaborasi dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, RS UI dan lembaga Delft Imaging dari Belanda.
 
Chief Investigator The Fight Covid-19 Study, Eric Daniel Tenda menyebut ini merupakan riset perdana di Indonesia dengan menggunakan AI yang berdasarkan machine learning. Ia menjelaskan tahap pertama riset ini adalah skoring (memberi angka) pada subjek terduga dan terkonfirmasi covid-19.
 
Tahap kedua, studi diagnostik. Tahap ini yaitu melakukan prediksi berdasarkan efektivitas penggunaan kecerdasan buatan pada foto rontgen dada, kemudian dibandingkan dengan uji reverse-transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) pada pasien covid-19.

Baca Juga:  AS Telah Kalah dalam Pertempuran AI dengan China





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Menurut Eric, alasan penggunaan AI ini karena RT-PCR memiliki sensitivitas yang masih rendah, yakni 60 sampai 80 persen. “Memang RT-PCR memiliki keterbatasan dari segi sensitivity,” kata Eric dalam Webinar di kanal YouTube Medicine UI, Jumat, 17 Juli 2020.
 
Menurut dia, tes menggunakan RT-PCR ini juga membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mengetahui hasilnya. Terlebih, jika kasus covid-19 semakin banyak. Makanya, kata dia, dibutuhkan alat diagnosis pembantu.
 
“Maka dibuatlah sebuah fast track development untuk AI detection covid-19 dengan menggunakan x-ray images, kami namakan The Fight Covid-19 Study, sesuai semangat menanggulangi covid-19,” jelasnya.
 
Baca:305 Proposal Prioritas Riset Nasional 2020 Siap Dapat Pendanaan
 
Menurut Eric, riset ini bertujuan mengurangi beban kerja dokter dan petugas laboratorium melakukan pemeriksaan RT-PCR. Selain itu, membantu pelayanan pasien, terutama di rumah sakit rujukan.
 
?”Studi ini diharapkan bisa menjadi jawaban dari proses pelayanan yang tidak mempunyai banyak sumber daya, diharapkan Insyaallah menjadi jawab kebutuhan pelayanan yang sampai di daerah,” tuturnya.
 
Eric menyebut software The Fight Covid-19 Study ini bisa diakses secara daring. Selain itu, kekuatan dari riset ini yakni bisa melihat kolerasi parameter klinik dan radiological disease.
 
“Sangat reliable untuk asesmen triase, dalam proses pelayanan pasien saat pertama kali diterima,” ujarnya.
 
Untuk pelaporan hasil tes, kata dia, dilakukan berdasarkan algoritma yang dikembangkan Delft Imaging. Software akan melakukan segmentasi dari foto rontgen yang sudah ada.
 

(AGA)





Source link

Baca Juga:  China Tingkatkan Akurasi Rudal Hipersonik dengan Teknologi Kecerdasan Buatan