Pendidikan daring di era pandemi benar-benar hal baru yang membutuhkan sarana tidak murah. Selain butuh gadget, juga membutuhkan kuota yang tidak sedikit. Berikut bincang-bincang wartawan Jawa Pos Radar Semarang dengan Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jateng sekaligus Anggota Komisi E DPRD Jateng Yudi Indras Wiendarto.

Bagaimana kondisi pendidikan di era pandemi Covid-19 sekarang?

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) se-Jateng harus mengubah kebijakan penggunaan anggaran dalam pendidikan di masa pandemi. Banyak orangtua siswa yang mengeluh dengan kondisi pembelajaran sekarang. Saya mendengar langsung keluhan saat melakukan kunjungan ke daerah. Ada keluarga yang memang tidak punya gadget, ada yang punya namun tak memadai dengan jumlah anak, ada yang memiliki gadget namun tak punya kuota internet.

Melihat kesulitan dalam kegiatan belajar mengajar, harus ada fasilitas agar masing-masing siswa memperoleh gadget. Di masa pandemi ini, gadget itu jadi sarpras pendidikan. Melihat kondisi itu, mesti ada terobosan. Kalau memang dibutuhkan, siswa diberikan gadget untuk sarana belajar dari rumah. Dana dari mana? Kalau itu masuk sarpras pendidikan mestinya bisa dari BOS.

Apakah dana BOS itu mencukupi untuk pengadaan gadget siswa?

Saya kira anggaran BOS masih bisa meng-cover. Dalam indeks dana BOS per siswa tahun 2020, Rp 900.000 per siswa/SD, Rp 1.100.000 per siswa SMP/MTs, Rp 1.500.000 per siswa SMA dan Rp 1.600.000 per siswa SMK. Dalam hal ini, Pemprov Jateng memiliki kewenangan dalam pengelolaan pendidikan di jenjang SMA sederajat. Selain dana itu, masih ada dana BOS daerah. Alokasinya pun cukup besar.

Dengan melihat itu, kami kira masih mencukupi. Misalnya, jika sebelumnya seragam sekolah ditanggung pemerintah maka saat ini bisa saja dialihkan dulu untuk sarpras tadi (gadget). Program-program lain yang dirasa bisa dialihkan, seperti boarding school dan pengadaan komputer bisa dialihkan dulu.

Bagaimana dengan kuota untuk pembelajaran daring?

Pemerintah juga harus bisa memfasilitasi kuota internet. Buat apa gadget tanpa kuota. Toh sekarang memang pendidikan daring juga digalakkan pemerintah, seharusnya juga disertai dengan fasilitas.

Agar, penggunaannya tepat sasaran maka gadget tersebut sudah di-setting hanya untuk digunakan dalam pembelajaran. Jadi, gadget tak bisa digunakan untuk game online. Browsing pun hanya dibatasi web tertentu saja. Langkah ini jelas akan meringankan beban orang tua. Apalagi orang tua yang terkena imbas langsung dari Covid-19 dari sisi ekonomi. Sudah orang tua susah cari pendapatan, eh anak minta kuota internet untuk belajar. Bisa jadi tambah pusing.

Peran orangtua sejauh apa di era pandemi seperti sekarang?

Orangtua tetap harus ikut aktif dalam pendidikan anak. Terutama berkaitan dengan pendidikan karakter anak. Dengan banyak membaca buku atau artikel di internet, anak akan semakin cerdas. Tapi dia khawatir dari sisi sosial dan emosional.

Pendampingan terhadap pendidikan daring menjadi hal yang sangat penting. Apalagi sekarang mulai dari TK sampai SMA semua daring. Jadi butuh peran orangtua dalam pendampingan. Bagaimana orangtua harus lebih pintar dan cerdas agar anak-anak bisa tetap menjalani pendidikan yang berkualitas di rumah. (*/ida)

Source link