Raksasa teknologi AS, IBM, melihat Indonesia sebagai salah satu pasar paling potensial di Asia untuk layanan cloud computing, karena semakin banyak pelaku usaha beralih ke penyedia penyimpanan data pihak ketiga untuk memangkas biaya operasional.

Country manager IBM Indonesia untuk cloud, Lianna Susanto; mengatakan di Jakarta pada hari Senin bahwa bisnis cloud computing (komputasi awan) di Indonesia cukup menjanjikan karena banyak perusahaan telah menggunakan komputasi awan daripada penyimpanan data internal mereka untuk memotong biaya operasi.

Dengan menggunakan komputasi awan, perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membangun sistem penyimpanan data internal mereka. “Perusahaan akan lebih fokus untuk mempercepat pertumbuhan bisnis mereka dengan menggunakan layanan cloud,” kata Lianna.

Lianna mengatakan IBM telah mencatat pertumbuhan pendapatan 12 persen dalam bisnis komputasi awan secara global, dan menambahkan bahwa IBM menargetkan untuk mendongkrak pendapatan dua kali lipat di Indonesia.

“Kami berharap dapat meraih target penjualan dua kali lipat di Indonesia, karena kami telah mencatat pertumbuhan pendapatan di bisnis cloud sebesar US $ 19,5 miliar secara global dalam 12 bulan terakhir,” katanya kepada The Jakarta Post. Dia, bagaimanapun, menolak untuk mengungkap nilai penjualan perusahaan di Indonesia.

Layanan cloud mulai mendapatkan daya tarik di Indonesia, tetapi banyak perusahaan ragu untuk menggunakannya karena kesulitan dalam transfer data, keraguan terkait keamanan dan kebijakan publik yang tidak pasti tentang manajemen cloud, kata Lianna.

Dalam upaya untuk melayani pelanggannya dengan lebih baik, IBM akan menyediakan layanan multicloud pertama di Indonesia untuk sektor privat dan publik karena IBM telah menggabungkan cloud privat dan banyak cloud publik termasuk Microsoft Azure, Google Cloud, Alibaba dan IBM Cloud.

“Layanan cloud akan berguna untuk memfasilitasi perusahaan dengan fleksibilitas dan memberikan peluang untuk meningkatkan proses bisnis,” kata Liann.

IBM tidak menargetkan industri spesifik untuk layanan multicloud, tetapi mengidentifikasi perusahaan pemula di Indonesia sebagai pembeli potensial untuk platform tersebut, kata Lianna.

Lianna mengklaim bahwa ada persaingan dalam menyediakan layanan cloud di Indonesia, tetapi belum ada yang mengembangkan platform multicloud selain IBM.