Setelah Psikolog Caecilia Nirlaksita Rini, S. PSI, M.si  meminta agar kasus ulah pati yang dilakukan Ni Kadek AM, 15, salah satu siswi SMA di Karangasem tak dianggap sepele.

Kini atas aksi nekat dengan cara jalan pintas hanya gara-gara dilarang main handphone juga mendapat perhatian khusus dari Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Bali.

Lalu apa langkah KPPAD Bali terkait kasus yang gegerkan jagad Bali ini?

Komisioner KPPAD Bali Anak Agung Sagung Anie Asmoro menyesalkan dan menyatakan keprihatinannya dengan munculnya kasus ulah pati yang dilakukan remaja putri berinisial Ni Kadek AM, 15.

Keprihatinan KPPAD Bali ini karena selain korbannya anak di bawah umur, Anie Asmoro juga menyoroti dugaan motif korban melakukan aksi bunuh diri.

Menurutnya, di era serba digital, ia mendorong kepada seluruh orang tua agar memberikan pengawasan dan perhatian lebih.

Perlunya kontrol dan pendampingan lebih terhadap anak saat main gadget juga ditekankan Anie Asmoro untuk meminimalisasi terjadinya dampak buruk atau resiko terhadap gangguan emosi maupun fisik pada anak.

“Memang saat ini kita semua tidak memungkiri bahwa handphone maupun gadget seperti sudah menjadi kebutuhan bagi anak. Baik itu untuk kepentingan sekolah atau pendidikan maupun komunikasi di luar sekolah,”ungkap Anie Asmoro.

Bahkan, dari pengamatan umum KPPAD Bali, dengan model pendidikan yang lebih banyak dilaksanakan secara daring (dalam jaringan/online) ia menilai, hampir 90 persen anak di Bali memegang gawai (gadget).

“Kecuali mungkin bagi beberapa anak tertentu (kurang mampu secara ekonomi) atau di daerah terpencil yang terkendala jaringan internet,”imbuh Anie Asmoro.

Banyaknya waktu anak untuk memegang gadget inilah yang menjadi ‘warning’ KPPAD Bali kepada orang tua.

Selain itu, luas dan mudahnya anak mengakses informasi dan aplikasi (baik negatif maupun positif) yang ada di gadget harus menjadi catatan dan fokus bersama agar orang tua juga dituntut lebih melek teknologi sehingga mampu mengarahkan anak untuk bijak menggunakan piranti gawai secara positif.

Terlebih bagi anak yang menginjak remaja, perlunya peran lebih orang tua, kata Anie Asmoro urgent diperlukan karena secara hormon, psikologi dan penanganan berbeda dengan mereka yang masih berusia anak atau balita.

“Bagi anak yang sudah menginjak remaja (SMP dan SMA), tentu beda penanganan dengan mereka yang masih kecil (SD, TK, maupun PAUD).

Selain dari psikologi berbeda, anak yang sudah menginjak lebih cenderung sensitif dan memiliki perlawanan ketika misalnya mereka dimarah atau tidak sependapat,”ungkapnya.

Untuk itu, terkait kasus ulah pati yang menimpa siswi SMA di Banjar Dinas Dharma Winangun, Desa Tianyar, Kecamatan Kubu, Karangasem, Anie Asmoro lebih menekankan pada pentingnya sosialiasi antara orang tua dan anak di lingkungan keluarga.

Ia juga mengimbau agar orang tua lebih bijak saat menyampaikan kritik atau teguran pada anak, khususnya anak yang sudah menginjak remaja.

“Jadi mungkin tidak disampaikan dengan nada keras/kasar atau marah-marah. Orang tua harus mampu dan bijak memberi kritik sekaligus solusi, sehingga anak memahami maksud orang tua dan tidak merasa disalahkan atau dihakimi,”pinta Anie Asmoro.

Terakhir, dengan munculnya kembali kasus bunuh diri yang dialami siswi SMA, KPPAD Bali juga akan kembali mengaktifkan “Program 1821”.

“Program ini maksudnya adalah kita minta anak menaruh gadget-nya dari mulai pukul 18.00 hingga pukul 21.00. Tujuannya, rentang waktu itu untuk ruang sosialiasi, komunikasi antara anak dan orang tua,”jelasnya.

Selain itu, yang tak kalah penting, ia juga berharap, dengan munculnya kasus ini, agar seluruh masyarakat khususnya orang tua untuk  lebih kembali menanamkan pendidikan religi, budaya dan budi pekerti sejak diri, serta membiasakan dan mengenalkan anak terhadap kegiatan yang bersifat edukasi.

Sumber: Radar Bali

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Mohon masukkan nama anda disini