Kumparan Academy berkolaborasi bersama Wellshared mengadakan Webinar From Zero to One: Strategi Membangun Bisnis Ala Bos Startup yang dilaksanakan selama 4 sesi selama 4 hari yaitu pada 13,14,16, dan 21 Juli 2020.

Webinar ini turut menghadirkan sejumlah narasumber inspiratif dari berbagai startup di Indonesia. Sebut saja Hugo Diba (CEO kumparan), Aryo Ariotedjo (Founder Grupara Ventures & Wellspaces.co), Edward Tirtanata (CEO Kopi Kenangan), dan Christian Sugiono (Founder Cumi.id) yang akan menjadi narasumber pada sesi pertama. Achmad Zaky (Founder Bukalapak dan Init6) sebagai narasumber pada sesi kedua. Joshua Agusta (Director Mandiri Capital Indonesia) sebagai narasumber pada sesi ketiga dan sebagai penutup pada sesi terakhir ada Monica Oudang (Chairwoman YABB dan HR Director Gojek).

Senin (13/7) lalu, sesi pertama telah dilaksanakan sejak pukul 09.00 WIB. Keempat narasumber pun secara blak-blakan menceritakan soal kunci sukses mereka dalam mendirikan serta mengembangkan perusahaannya masing-masing seperti berikut ini.

Cari Investasi dan pendanaan

Berbicara mengenai cara membangun bisnis, maka investasi menjadi salah satu yang paling penting dan paling sulit didapatkan. Terlebih lagi, pada era serba digital, sebuah perusahaan harus bisa berpikir dinamis dan memiliki variasi rencana agar bisa bertahan dengan perubahan situasi yang begitu cepat terjadi.

Hugo Diba, CEO kumparan. Dok: kumparan.

Pendiri sekaligus CEO platform berita kumparan, Hugo Diba, bercerita dirinya mendapat pro dan kontra dalam proses mendirikan perusahaan media. Selain karena kompetisi yang sulit, bisnis di media terbilang hal yang berisiko karena disrupsi teknologi media sosial.

Di sisi lain, Hugo melihat ‘senjakala media’ adalah kesempatan untuknya membangkitkan gairah industri media di tengah disrupsi teknologi. “Untuk melakukan perubahan itu dibutuhkan dua hal yang saya sebutkan sebagai excellent in journalism dan excellent in technology,” jelasnya.

Dalam proses mencari investasi, sebuah perusahaan disebutnya perlu menemukan investor yang ‘jatuh cinta’ dengan bisnis yang dijalankan. Oleh karena itu, penting bagi pemilik bisnis memahami secara jelas apa yang akan mereka lakukan dan bagaimana melakukannya untuk bisa mendapatkan ‘jodoh’ investor bisnis mereka.

Baca Juga:  Simulasi Realitas Maya agar Bangunan Lebih Aman

Hugo menjelaskan, ada dua jenis investor: Investor strategi dan investor pendanaan. Ketika mencari investor, pebisnis harus memahami terlebih dahulu tipe investor mana yang mereka butuhkan untuk mendukung gol dan tujuannya.

“Gol dan purpose yang direncanakan dan yang dijanjikan kepada investor itu harus in line dengan yang dihasilkan. Karena kalau sampai enggak, maka akan timbul permasalahan,” jelas Hugo.

“Saya enggak bicara bawa financial investor is better than strategic investor atau sebaliknya. Tapi dari awal sebagai founder kita mesti paham nih, sebenarnya di fase ini kita lebih butuh mendapatkan pendanaan dari untuk strategic investor atau dari financial investor,” lanjutnya.

Aryo Ariotedjo, Founder Grupara Ventures & Wellspaces.co. Dok: Istimewa/kumparan.

Sejalan dengan Hugo, Pendiri Grupara Venture dan Wellspaces.co, Aryo Ariotedjo menjelaskan bahwa ada tips dan hal-hal sederhana yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan investasi. Salah satunya ialah memiliki rencana yang detail soal meraih konsumen agar bisa mendapatkan kepercayaan dari venture capital atau investor.

“Diharapkan sih lebih detail than just saying ‘oke kita mau habisin sekian rupiah’. But how do you actually find customers? Karena menurut kita understanding the way we reach customer itu penting sih karena kan ujung-ujungnya kalau lo gak bisa dapet customer ya susah juga,” kata Aryo.

Selain itu, penting juga untuk memperhatikan proposal presentasi kepada investor. Apabila kamu masih ragu, kamu bisa mengecek presentasimu di platform benchmark presentasi seperti Investor Pitch Deck milik Sequoia.

Untuk pencarian investor sendiri, ada baiknya jika kamu melakukan pendekatan secara personal. Misalnya, menghubungi pihak investor atau venture capital lewat LinkedIn atau melewati teman yang pernah mendapatkan investasi dari investor tersebut.

“Kalau mau reach VC, saran gua, try not to email random. Misalnya buka website terus ada email dan kalian email, itu better kalau reach VC lewat LinkedIn lebih personal atau lewat temen yang pernah di-invest VC itu untuk dapat akses lebih baik dengan cara referral,” jelasnya.

Baca Juga:  Teknologi Informasi Jadi Kunci Pengembangan Usaha, Eskalasi Startup 2021

Lihat peluang, fokus pada produk dan layanan

Edward, misalnya, memulai bisnis Kopi Kenangan di tahun 2017 karena merasa memiliki peluang yang besar di kala tren kopi sedang menjamur. Ia melihat ada celah yang sangat besar di antara penikmat minuman, hanya ada kopi ala mal seperti Starbucks yang harganya mahal atau minuman sachet di warkop yang harganya sangat terjangkau.

Edward Tirtanata, CEO Kopi Kenangan. Dok: kumparan.

Dari peluang tersebut, Edward lantas mengeksekusinya dengan fokus mengisi celah tersebut. Oleh karena itu, Kopi Kenangan memiliki visi untuk menjadi penyedia minuman yang terjangkau, baik dari segi harga maupun lokasi.

“Dalam berdagang kita itu bisa main volume atau main margin. Kalau di mal mungkin brand lebih banyak yang bermain margin untuk membayar rental di mal atau di office. Nah, makanya dari situlah perbedaan kita di awal. Dan sampai sekarang saya masih merasa kita yang paling banyak bisa buka di mall dan office,” kata Edward.

Bisnis di industri minuman kopi memang menjadi tantangan tersendiri, apalagi kompetitornya sekelas Starbucks. Meski begitu, selama masalah demi masalah berhasil diselesaikan dengan eksekusi yang baik, bukan tidak mungkin startup bisa bertahan lama dan bahkan disrupsi pasar. Edward lantas mencontohkan Yahoo dan BlackBerry. Keduanya berhasil digulingkan oleh pesaingnya yang lebih muda, Google dan WhatsApp.

“Di Kopi Kenangan, kita selalu melihat bahwa kita harus bisa execute better than competitor. Begitu cara Google beat Yahoo, WhatsApp beat Blackberry. Semua kembali ke execution untuk tackle semua problem yang ada di dalam startup,” tambahnya.

Christian Sugiono, Founder Cumi.id. Dok: kumparan.

Senada dengan Edward, pendiri CUMI yang juga merupakan seorang aktor, Christian Sugiono, menjelaskan bahwa penting untuk fokus pada peluang dan solusi yang ingin diberikan. Pria yang akrab disapa Tian itu melihat masih ada peluang baru di industri marketplace yang sudah matang dan ramai pemain, sehingga berani mengeksekusi kesempatan itu dengan membentuk startup CUMI.

Baca Juga:  Karyawan Apple mengatakan mereka akan berhenti karena dorongan kembalinya Tim Cook ke kantor

CUMI adalah platform marketplace rental barang. Pengguna bisa menyewakan barangnya atau mencari barang yang mereka ingin pinjam di CUMI. Ide mendirikan bisnis tersebut muncul karena Tian melihat banyaknya kebutuhan untuk menggunakan barang dalam waktu yang sangat singkat. Biasanya hal itu dirasakan oleh traveller.

“Kita jadi pengin lihat masalah dan bikin sebuah peluang untuk dapat membuat solusi dari sebuah permasalahan yang ada,” jelasnya. “Kita melihat market paling banyak sewa menyewa adalah traveller. Strategi pertamanya di segmen pariwisata, di mana orang jalan-jalan ke luar negeri instead bawa stroller buat anak masuk pesawat (malah) berat (barang bawaan), mending sewa di tempat tujuan. Pakai 2-3 hari, selesai, lalu dikembalikan.” jelas Tian.

CUMI mulai beroperasi pertama kali di Bali, yang pasarnya sangat luas untuk pariwisata dan industri sewa-menyewa sudah banyak dan matang. Eksekusi strategi mereka adalah mengakuisisi vendor rental yang ada di Bali berdasarkan kebutuhan startup miliknya.

Sebagai platform digital, CUMI ingin mereplikasi prosedur pinjam-meminjam barang tanpa mengubah sistem atau mekanisme yang biasa dijalankan vendor rental, dengan memberikan nilai tambah seperti pembukuan data yang jelas hingga asuransi.

Eksekusi sebuah ide memang harus dilakukan bagi mereka yang ingin mencoba mendirikan startup. Menurut Tian, percuma jika hanya melihat peluang dan ada ide untuk menciptakan bisnis baru di kesempatan itu namun tidak dieksekusi.

“Ide itu something, tapi yang paling penting eksekusi. Mau sebagus apapun ide kalian, mau secanggih million dollars idea, tapi kalau enggak bisa di-execute sama aja nol.” ungkapnya.

Selain itu, calon pendiri juga perlu mencari mitra atau tim yang bisa mengeksekusi ide bersama-sama. Partner ini harus memiliki pemikiran, chemistry, serta komitmen yang sama. Sebab, mengerjakan startup bukanlah hal yang mudah dan tentunya memiliki banyak tantangan.

Ya, bagi Anda yang tak sempat mengikuti live streaming sesi pertama webinar ini di YouTube, Anda tetap dapat menyaksikan tayangan selengkapnya melalui tautan berikut.

Source link