Standard Chartered mencatat ada 40 juta pengguna layanan digital baru di Asean

PitaData.com — Standard Chartered mencatat pengguna mobile device tumbuh 64 persen. Hal ini membuktikan layanan digital perbankan melalui online mobile app tumbuh signifikan di tengah pandemi Covid-19.

Vice Chairman ASEAN & President Commissioner Standard Chartered Rino Donosepoetro mengatakan pada tahun lalu ada sekitar 40 juta pengguna internet baru di ASEAN.

“Internet ekonomi telah menjadi panel pertumbuhan yang cepat dan menjadi bagian dari 24 persen dari 100 juta dolar AS hingga 300 juta dolar AS pembelanjaan,” ujarnya dalam keterangan resmi seperti dikutip Selasa (26/10).

Menurutnya saat ini dunia bisnis modern, investasi terhadap artificial intelligence (AI) dan cloud merupakan kebutuhan yang menguntungkan. Hal ini karena teknologi AI bisa menggabungkan kekuatan data dan pembelajaran mesin AI untuk mengekstrak nilai dari data industri.

Baca Juga:  Pentingnya Literasi Keamanan Siber untuk Infrastruktur Teknologi Mumpuni

Dari sisi perbankan, faktor pandemi telah membuat ekonomi mengambil langkah dalam beberapa tahun terakhir. Pertama, digitalisasi secara fundamental telah membuat consumer behaviour berubah.

“Kita bisa lihat cara konsumen belanja saat ini yang lebih memilih secara virtual dengan kecepatan yang tak terprediksi,” ucapnya. Menurutnya hal ini juga membuktikan konsumen ASEAN butuh platform terintegrasi. Dari sisi lain komersial bisnis menawarkan digital financial service.

“Jadi nantinya hubungan antar ASEAN baik dari media, ecommerce dan sebagainya untuk berkonversi pada platform terintegrasi. Bisnis tradisional pun lambat laun akan membuka layanan digital,” ucapnya.

Sementara itu, Chief Executive Officer, Asia Pacific, Australia, New Zealand and China, PepsiCo Wern-Yuen Tan mengatakan manfaat AI lainnya yakni mendapatkan data analitik agar bisa digunakan untuk mencapai efisiensi dalam supply chain.

Baca Juga:  Standard Chartered Prediksi Harga Bitcoin Bisa Sentuh US$ 100.000 Tahun Depan

“Teknologi AI dan Machine learning akan membantu kita untuk mengetahui apa yang konsumen inginkan, bahkan sebelum mereka menginginkannya,” ucapnya.

Group Chief Strategy Officer Lazada Magnus Ekbom menambahkan metode untuk mengetahui consumer behaviour telah berjalan dalam 10 tahun terakhir. Menurutnya aktivitas kerap disebut akselerasi bisnis.

“Yang paling besar terjadi adalah dalam dua tahun terakhir pengamatan consumer behaviour ini telah diterapkan setiap hari sehingga bukan hanya menjadi sesuatu yang dadakan saja,” ucapnya.

“Akibatnya consumer behaviour telah merubah produk suplai secara online. Konsumen juga sangat menikmati transformasi yang telah dilakukan dalam beberapa tahun ini,” katanya.

Bagi perusahaan, lanjutnya, fenomena ini sudah menjadi kenyataan yang harus dihadapi sekarang, sehingga perusahaan konsumen harus bisa mengadaptasi dan mengadopsi consumer demand terjadi saat ini.

Baca Juga:  Pentingnya Literasi Keamanan Siber untuk Infrastruktur Teknologi Mumpuni

“Saat ini telah melayani berbagai SME beberapa kategori dan standar. Optimisme pelayanan online pada SME telah diteliti secara berbeda baik secara multi level atau negara,” ucapnya.