Investor Korea Selatan gencar berinvestasi di startup Asia Tenggara seperti Bukalapak dan Grab. Kini, Korea Investment Partners memimpin pendanaan seri B US$ 12 juta kepada induk organisasi e-sports profesional Indonesia EVOS Esports, Attention Holdings Pte. Ltd.

Investor lain yang berpartisipasi yakni Mirae Asset Ventures, Woowa Brothers, Indogen Capital, Surya Semesta Internusa, Selera Capital, Mandiri Investments Singapore, Jagartha Capital, dan Insignia Ventures Partners. Beberapa perusahaan keluarga di Asia Tenggara dan Jepang turut berinvestasi.

Executive Director of Korea Investment Partners Park Sang-Ho menilai, pertumbuhan industri olahraga elektronik atau e-sports sangat pesat. “Attention Holdings menancapkan posisinya sebagai platform terdepan se-Asia,” kata dia dikutip dari siaran pers, Selasa (27/10).

Ia juga menilai bahwa tim Attention Holdings berada di jalur yang tepat untuk membangun ekosistem e-sports terbesar di Asia. Sang-Ho pun bakal bergabung dalam jajaran direksi induk EVOS tersebut.

Chief Executive Officer Attention Holdings Ivan Yeo mengatakan, penghasilan perusahaan meningkat setiap bulan sejak awal tahun. Sedangkan pendapatan korporasi e-sports global diproyeksikan meningkat hingga 15% per tahun. Khusus di regional, pertumbuhannya diprediksi 24%.

Baca Juga:  Gojek Gaet Mantan Petinggi Amazon untuk Pimpin Divisi Teknologi

Di satu sisi, ia mencatat ada banyak daerah yang belum terjangkau e-sports di negara Attention Holdings beroperasi. “Ini menjadi peluang bagi kami untuk memperluas jangkauan dan menjadikan Indonesia sebagai pusat e-sports terbesar di Asia,” katanya.

Suntikan dana kepada Attention Holdings menambah ragam portofolio investasi dari penanam modal asal Korea Selatan. Sebelumnya, Yummy Corp, Bukalapak, dan perusahaan rintisan asal Malaysia, Dahmakan meraih dana segar dari investor asal Negeri Ginseng.

Grab juga dikabarkan menggalang pendanaan US$ 200 juta atau sekitar Rp 2,9 triliun dari perusahaan modal ventura asal Korea Selatan, Stic Investment. Sumber Bloomberg mengatakan, Stic Investment bakal menginvestasikan US$ 100 juta.

Sedangkan Yummy Corp meraih pendanaan seri B US$ 12 Juta atau sekitar Rp 175 miliar, yang dipimpin oleh SoftBank Ventures Asia. Investor ini sebelumnya bernama SoftBank Ventures Korea Selatan.

Baca Juga:  Startup Milik Grup Salim Digitalisasi Pedagang Pasar Saat Pandemi

Selain itu, Bukalapak memperoleh pendanaan seri F dari anak usaha bank asal Korea Selatan, Shinhan GIB. Investor ini merupakan unit perbankan investasi terintegrasi dari Shinhan Financial Group (SFG), yang mengelola beragam portofolio bisnis seperti bank komersial, investasi, permodalan, asuransi, kartu kredit, dan lainnya.

Investor asal Korea Selatan lainnya yang aktif berinvestasi di Asia Tenggara yakni Yanolja, Woowa Brothers, dan GEC-KIP Fund besutan Korea Investment Partners (KIP) dan Golden Equator Ventures (GEV). GEC-KIP Fund juga menanamkan modalnya di startup cloud kitchen asal Malaysia, Dahmakan.

Managing Partner dari Golden Equator Ventures Daren Tan mengatakan, ada beberapa alasan utama yang membuat investor asal Korea Selatan tertarik berinvestasi di startup Asia Tenggara. Salah satunya, jumlah penduduknya lebih dari 650 juta jiwa.

Tan menilai, regional menawarkan peluang besar dan hasil investasi yang lebih tinggi. “Investor Korea yang berpengalaman, konglomerat atau chaebol, dan perusahaan melihat peluang yang tersedia di Asia Tenggara sebagai lahan subur,” kata Tan dikutip dari e27, pada Maret lalu (17/3).

Baca Juga:  Pahami Target Market Kunci Perkuat Bisnis Startup

Mitra Access Ventures yang berbasis di Seoul, Charles Rim mengatakan, pasar di Korea Selatan terpantau menyusut sehingga investor mulai beralih ke negara lain. “Ada semacam perlambatan di Korea. Jadi investor sekarang mencari (investasi lain) di global. Asia Tenggara adalah pilihan yang baik dalam hal kedekatannya dengan pasar dalam negeri,” ujarnya.

Senior Associate White Star Capital Eddie Lee merasa, tren ini sangat mirip dengan kondisi ketika modal ventura Amerika Serikat (AS) masif berinvestasi di Tiongkok dan India sepuluh tahun lalu. Saat ini, pembangunan sebagian besar startup dengan model bisnis 2.0 di Negeri Ginseng sudah matang dan didanai dengan baik. “Jadi modal ventura Korea mencari peluang untuk melanjutkan strategi yang sama,” kata Lee.

Source link