Harga mata uang digital (cryptocurrency) jenis bitcoin menyentuh US$ 10.043 atau Rp 150 juta per koin pada awal Mei lalu (8/5). Analis memperkirakan harganya naik lagi karena faktor pengurangan pasokan (halving).

“Apakah US$ 20.000 merupakan basis bitcoin, mungkin kami melihat US$ 100.000,” kata pendiri Gemini Cameron dan Tyler Winklevoss dikutip dari Forbes, Senin (18/5).

Harga bitcoin sudah tiga kali menyentuh level di atas US$ 10.000 per koin sejak awal Mei. (Baca: Harga Bitcoin Tembus Rp 150 Juta, Investor Diminta Hati-hati)

Seiring dengan menguatnya harga, JPMorgan Chase bahkan mengubah sikapnya terhadap bitcoin. Perusahaan akan mulai menawarkan rekening bank ke pialang penukaran Coinbase dan Gemini. Wall Street Journal melaporkan bahwa bank menyelesaikan kemitraan pada April lalu.

Perusahaan akan menawarkan layanan setoran, penarikan, dan transfer ke pelanggan kedua bursa cryptocurrency. Langkah ini diambil kurang dari tiga tahun setelah CEO Jamie Dimon menyebut bitcoin sebagai penipuan.

Baca Juga:  Prospek Investasi Bitcoin saat Pandemi Corona

Dikutip dari Cointelegraph, volume options bitcoin di CME bahkan melonjak 1.000% sejak awal bulan ini. Investor pun menggali potensi call options, yang memungkinkan mereka mendapatkan manfaat dari potensi kenaikan harga bitcoin.

Call options kontrak merupakan produk turunan dari bitcoin. Meskipun dianggap lebih rumit ketimbang perdagangan berjangka, pasar options memungkinkan investor untuk meningkatkan posisi mereka tanpa risiko likuidasi.

Peningkatan volume terjadi karena pasokan bitcoin berkurang setengah atau disebut halving. Peristiwa ini terjadi empat tahun sekali.

Halving akan mengurangi reward atau imbalan 50% kepada penambang bitcoin. Dimulai dari 50 bitcoin pada 2012, imbalan akan berkurang hingga tahun ini hanya menjadi 6,25 bitcoin.

Baca Juga:  Tampilan 'Sampah Plastik' di Panggung Blockchain

(Baca: Harga Bitcoin Diprediksi Melonjak 10 Kali Lipat Usai ‘Halving’)

Mengacu ke halving 2012 dan 2016, kenaikan harga bitcoin dapat mencapai 30-35 kali lipat setelah hari pertama halving. “Kemudian sekarang halving ketiga secara analisa banyak yang bilang naik, tapi tidak banyak, mungkin 10 kali lipat,” ujar Business Development Specialist of Indodax Fransiskus Bupu Awa Du’a dalam Webinar Blockchain & cryptocurrency, beberapa waktu lalu (8/5).

Founder of Bullwhales Douglas Tan mengatakan, halving membuat bitcoin dicetak semakin sedikit dari waktu ke waktu. Fenomena itu juga akan membawa inflasi  pada bitcoin. Namun, inflasi bitcoin dapat terukur dengan baik karena kepastian penurunan imbalan blok. 

Berdasarkan grafik volume di CME, belum ada indikasi berkurangnya minat investor. Akan tetapi, sebagian besar perdagangan merupakan kontrak call options jangka pendek.

Baca Juga:  Lagi, Aplikasi Penyedia Bitcoin Dibobol, Aset Rp180 Milyar Digondol Hacker

Karena itu, harga bitcoin dalam jangka pendek diperkirakan berada pada tren penguatan. (Baca: Apa yang Akan Terjadi Pada Halving Bitcoin? )

Akan tetapi, investor diharapkan berhati-hati dengan kemungkinan harga bitcoin turun. Pada Sabtu lalu misalnya, harga bitcoin jatuh 10% dalam setengah jam. Hal ini terjadi karena investor khawatir atas peringatan Gubernur The Fed Jerome Powell bahwa Amerika Serikat (AS) akan menghadapi periode panjang pertumbuhan ekonomi yang lemah.

Dikutip dari Cointelegraph, hal pertama yang harus diperhatikan oleh investor ritel yakni tanggal kedaluwarsa options CME. Sebab, ada insentif potensial untuk tekanan harga tambahan di setiap periode kedaluwarsa.

(Baca: The Fed Ramal Resesi Ekonomi akibat Pandemi Corona di AS Bakal Panjang)



Source link

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Mohon masukkan nama anda disini