Aksi jual besar-besaran terjadi di sejumlah saham emiten teknologi. Apakah kesaktian saham teknologi mulai berkurang di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah sebelumnya begitu hype alias jadi primadona pasar?

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menyebutkan jika tidak ada saham yang selamanya ‘sakti’. Namun dia mengatakan sebetulnya saham-saham tech memang paling kencang mengalami kenaikan.

“Kalau dibilang sakti, tidak ada yang selamanya sakti. Sebetulnya indeks ini salah satunya indeks yang naiknya paling kencang sebetulnya dari tanggal 25 Januari. Wajar enggak? Wajar saja naiknya dari bulan 1 hingga 8 [Januari ke Agustus] naiknya 424% sudah banyak,” kata Maximilianus dalam program InvestTime PitaData.com, Jumat (20/8/2021).

Baca Juga:  Cuan Gan! Saham Facebook Capai Nilai Tertinggi Dalam Sejarah

Dia menambahkan jika emiten sektor teknologi merupakan salah satu yang paling ‘panas’ saat ini. Menurutnya saham teknologi yang harganya turun masih dalam taraf wajar dan dalam jangka waktu pendek akan mengalami kenaikan lagi.

Jadi dia menyimpulkan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebab teknologi saat ini digunakan dan tetap akan menggeliat hingga tahun depan.

Contohnya tahun 2020, di mana semua orang dipaksa mengubah aktivitas yang tadinya konvensional menjadi digital. Selain itu juga banyaknya aplikasi yang menemani gaya hidup saat ini.

“Kami meyakini sekitar 2021 seenggaknya sampai 2022 sektor ini masih akan menggliat,” jelasnya.

Sementara itu, pada Jumat (20/8/2021) saham PT Bukalapak com (BUKA) ditutup terkoreksi 3,35% di level Rp 865/saham. Satu hari sebelumnya, saham BUKA sempat naik ke atas harga saham perdana (initial public offering/IPO).

Baca Juga:  Ada Kasus PS Store, Pemerintah Masih Siapkan Alat Blokir Ponsel Ilegal

Melihat fenomena ini, Maximilanus mengimbau untuk bersabar sebab tidak semua saham langsung mengalami keuntungan. “Sabar adalah salah satu kuncinya kalau kita yakin valuasi di masa depan,” ungkapnya.

“Katakanlah BUKA setelah dihitung-hitung asumsinya Rp1.400, punya keyakinan goals-nya itu setiap kali adanya ARB [auto reject bawah 7%] lakukan akumulasi. Bagi yang ‘idih saham kok udah ‘tutup lapak aja’ jual, enggak ada paksa juga untuk ikut Bukalapak, harus diatur ekspektasi,” jelas Maximilanus.

Dia menambahkan secara fundamental saham BUKA tidak jelek. Apabila para investor percaya perusahaan itu punya ekosistem bisnis yang bagus, artinya Bukalapak punya potensi valuasi yang bagus di masa depan.

“Apalagi kalau kita lihat ruginya pun masih mengalami turun terus ruginya, berarti masih ada potesi keuntungan,” kata Maximilanus.

Baca Juga:  Setelah Bos Bukalapak, Erick Thohir Akan Tunjuk Milenial Lain Jadi Direksi BUMN

Pada perdagangan Rabu ini (25/8) saham BUKA diperdagangkan di level Rp 905/saham, atau cencerung stagnan. Kemarin saham BUKA ditutup stagnan di level Rp 910/saham. Sepekan terakhir saham BUKA naik 9,04%.

Sepanjang perdagangan sejak melantai di BEI pada 6 Agustus lalu, saham BUKA dilepas asing Rp 709 miliar. Saham emiten tech lainnya misalnya PT DCI Indonesia Tbk (DCII) naik 9,97% pada Rabu ini. Sebulan terakhir asing keluar Rp 106 juta.

Source link

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Mohon masukkan nama anda disini