Google Cloud

Pemanfaatan teknologi cloud adalah satu-satunya cara agar memiliki startup yang tumbuh cepat di Indonesia, menurut Markku Lepisto, arsitek solusi Google Cloud.

Permintaan akan infrastruktur ini adalah salah satu alasan Google Cloud datang ke Indonesia.

Sepuluh hingga 15 tahun yang lalu, sebuah perusahaan online biasanya membutuhkan banyak dana di awal untuk membangun datacentre dan infrastruktur lainnya. Ini tidak lagi berlaku untuk startup di Indonesia, karena teknologi cloud memungkinkan perusahaan untuk memulai operasional tanpa harus menghabiskan banyak dana dan waktu.

“Jika memiliki ide bagus, kita dapat memulai dari yang kecil,” kata Markku kepada The Jakarta Post saat wawancara grup pada hari Rabu di konferensi Google Cloud NEXT ‘19 di San Francisco, California, Amerika Serikat.

Startup mengambil alih ekonomi digital Indonesia. Menurut laporan 2018 Google dan Temasek, Indonesia memiliki ekonomi internet dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara, senilai US $ 27 miliar pada tahun 2018, dan siap untuk tumbuh hingga US $ 100 miliar pada tahun 2025.

“Indonesia memiliki kecepatan untuk menumbuhkan perusahaan startup ke tingkat unicorn,” tambah Markku.

Pertumbuhan ini mendorong keputusan untuk membangun Google Cloud Region di Indonesia. Selain startup, pengembang individu dan perusahaan tradisional juga terlihat bergeser ke digital.

Untuk memungkinkan langkah seperti itu, Google telah mengidentifikasi tiga area untuk berinvestasi. “Kami memiliki pandangan jangka panjang mengenai hal ini. Jadi kami berinvestasi dalam infrastruktur, pada manusia dan dalam ekosistem bersama mitra dan pelanggan kami, ”kata Tim Synan, kepala Google Cloud di Asia Tenggara.

Studi Kasus Traveloka & Tiket.com

Meski belum diluncurkan, Google Cloud telah memiliki pelanggan di Indonesia, termasuk tiga unicorn dan sejumlah startup. Dua di antaranya adalah perusahaan pemesanan perjalanan online Tiket.com dan Traveloka.

Tiket.com telah menggunakan Google Cloud untuk infrastruktur dan data sejak tahun lalu. Wakil presiden data Tiket.com, Maria Tjahjadi, mengatakan bahwa mereka beralih ke Google Cloud untuk memenuhi permintaan pelanggan selama periode penjualan Online Ticket Week (OTW). OTW terakhir pada awal April berjalan dengan lancar dibandingkan dengan acara penjualan pertama pada Oktober karena skalabilitas cloud memberi perusahaan lebih banyak ruang untuk menangani peningkatan permintaan.

Selain skalabilitas, teknologi dan keamanan adalah alasan utama lainnya Tiket.com memilih untuk menggunakan layanan Google. Saat ini, 80 persen server mereka ada di cloud. “Pada bulan Juli, semoga kita dapat memiliki infrastruktur kami 100 persen di Google Cloud,” kata Maria.

Periode penjualan OTW juga merupakan produk data-driven. Maria mengatakan bahwa BigQuery, Dataflow, dan G Suite Google Cloud memungkinkan perusahaan untuk mengkompilasi data pada rute dan hotel yang direkomendasikan untuk musim penjualan.

Prediksi data berkualitas tinggi adalah manfaat lain yang dinikmati oleh perusahaan travel unicorn Traveloka. “Dengan Google Cloud, kami dapat memberikan rekomendasi berkualitas tinggi kepada pelanggan kami,” kata Daryl Manning, wakil presiden data Traveloka, selama wawancara.

Tim Traveloka menyoroti kecepatan sebagai alasan ia memilih Google Cloud. Kemampuan untuk menggunakan analitik dan menjawab pertanyaan bisnis yang sulit dengan cepat, serta kemampuan untuk bereaksi lebih cepat terhadap lingkungan bisnis yang kompetitif di Indonesia, merupakan manfaat menggunakan cloud.

Tidak seperti Tiket.com, Traveloka dilaporkan menggunakan multicloud. Pengguna multicloud nantinya dapat menggunakan produk baru Google Anthos, yang secara resmi dirilis pada 9 April di Google Cloud NEXT ’19.

Dengan cloud hybridnya, Anthos dikatakan dapat membantu mempromosikan penggunaan cloud di perusahaan tradisional. “Ini adalah transformasi dari perusahaan tradisional Indonesia. Karena mereka semua telah bertanya, ‘Bagaimana startup seperti Traveloka bisa begitu gesit dan cepat?’ Dengan Anthos dapat terus menggunakan apa yang mereka sukai dalam datacentre, tetapi juga dapat memanfaatkan cloud tanpa secara fundamental mengubah operasional mereka.”.

Datang ke Indonesia pada paruh pertama tahun 2020, Google Cloud Region akan menjadi layanan cloud berikutnya yang tersedia di Indonesia. Rick Harshman, direktur pelaksana Google Cloud di Asia dan Pasifik, mengatakan bahwa dengan semakin banyaknya pelaku digital di dunia kerja, ia yakin Google Cloud Region akan dapat membantu mengembangkan ekosistem digital yang lebih aktif di Indonesia.