Grab mencatatkan pendapatan tumbuh dua kali lipat dibandingkan tahun lalu (year on year/yoy) menjadi US$ 180 juta atau Rp 2,6 triliun pada kuartal II. Namun rugi bersih decacorn Singapura ini justru meningkat.

Nilai transaksi atau gross merchandise value (GMV) Grab meningkat 62% yoy menjadi US$ 3,9 miliar atau Rp 55,4 triliun. Ini karena permintaan layanan pengiriman barang atau GrabExpress dan pesan-antar makanan GrabFood melonjak 58%.

Order layanan taksi dan ojek online atau ride hailing juga meningkat 93%. Ini karena di beberapa wilayah sudah memperlonggar kebijakan pembatasan aktivitas di luar rumah.

Di Indonesia misalnya, pemerintah menurunkan status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM level 4 menjadi PPKM level 3 di sebagian besar daerah.

Baca Juga:  Fitur Forward dibatasi Whatsapp untuk lawan hoaks Covid-19

Penjualan bersih yang disesuaikan Grab mencapai rekor kuartalan US$ 550 juta atau meningkat 92%. Untuk layanan GrabExpress dan GrabFood naik 68%.

Hal itu seiring dengan jumlah mitra (merchant) GrabFood yang bertambah lebih dari dua kali lipat. Jumlah mitra GrabPay juga meningkat hampir tiga kali lipat.

Pengguna yang bertransaksi bulanan tumbuh 28%. Sedangkan GMV per pengguna per bulan meningkat 27%.

“Kami memiliki (kinerja) kuartalan yang kuat dengan pertumbuhan dua kali lipat. Dalam beberapa kasus, tumbuh tiga digit yoy di semua vertikal inti. Ini terlepas dari pandemi Covid-19 yang memburuk, yang membuat banyak negara di Asia Tenggara memperketat pembatasan pergerakan saat kasus melonjak,” kata Co-founder sekaligus CEO Group Grab Anthony Tan dikutip dari Business Wire, Senin (13/9).

Baca Juga:  Social Distancing Sempat Bikin Game Fortnite Down

Akan tetapi, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau EBITDA yang disesuaikan negatif US$ 214 juta pada kuartal II. Padahal, Grab masih membukukan EBITDA positif US$ 8 juta pada periode sama tahun lalu.

Rugi bersih Grab pun meningkat dari US$ 718 juta menjadi US$ 815 juta.

“Situasi pandemi corona di lapangan menantang. Bisnis terus bertahan, dan kami meningkatkan investasi di ekosistem superapp untuk mengantisipasi pemulihan pasar seiring dengan meningkatnya tingkat vaksinasi Covid-19,” kata Chief Financial Officer Grab Peter Oey.

Grab pun menurunkan prospek kinerja selama setahun penuh, karena pandemi corona di beberapa negara di Asia Tenggara memburuk. Target penjualan bersih yang disesuaikan diturunkan dari awal US$ 2,3 miliar menjadi US$ 2,1 miliar – US$ 2,2 miliar tahun ini.

Baca Juga:  Bisnis Startup Berbasis Digital Melesat pada Saat Pandemi

Sedangkan target GMV dikurangi dari rencana awal US$ 16,7 miliar menjadi US$ 15 miliar – US$ 15,5 miliar. “Kami tetap berhati-hati dengan ketidakpastian baru pembatasan pergerakan di Asia Tenggara terkait dengan Covid-19,” kata Grab dikutip dari Bloomberg.

Sumber: KataData