Metode-metode dalam sains data sebenarnya sudah sejak lama ada.

Matematikawan asal Inggris, Clive Humby, pada 2006 berpendapat jika data merupakan minyak baru. Tidak berlebihan, mengingat peran data di era 4.0 yang besar, walaupun seperti minyak yang tidak bisa dipakai jika tidak dimurnikan.

Pakar sains data, Dr Ridho Rahmadi mengatakan, minyak harus diubah jadi gas, plastik, dan bahan kimia agar menjadi berharga. Jadi, ia menilai, data tetap harus dipecah dan dianalisis agar memiliki nilai.

Dosen Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini menjelaskan, peran sains data dalam kehidupan manusia terus bertambah. Pemanfaatan turut meluas dan masif, walau ia melihatnya sebagai barang baru tapi sudah lama.

Baca Juga:  Lakukan Kunjungan ke Desa Pagerharjo Yogyakarta, Menkominfo Janjikan Bantu Layanan Akses Internet

Maksudnya, kata Ridho, metode-metode dalam sains data sebenarnya sudah sejak lama ada. Tapi, pemanfaatannya dari hari ke hari yang semakin luas dan masif menjadikannya seperti naik daun lagi, sehingga seperti barang baru.

Sains data, dalam bahasa informal seperti ini, yakni mencari nilai dari data, sesuatu yang berarti, yang mengarah kepada yang dapat diorkestrasi (atur) selanjutnya. Jadi, bukan hanya deskripsi secara rata-rata dan sebagainya.

“Kita ingin mengorkestrasi sekumpulan data jadi sesuatu yang lebih berbunyi, sesuatu yang bisa membantu kita memutuskan sesuatu,” katanya, dalam webinar Data Science dalam Konteks 4.0 yang digelar Prodi Magister Informatika UII.

Ia menerangkan, dulu itu jadi konsep-konsep yang kadang tidak relevan untuk dunia praktis. Sebab, komputasi zaman dulu mahal, terbatas, dan Random Acces Memory (RAM) atau tipe penyimpanan satu giga saja belum menjadi barang umum.

Baca Juga:  Teknologi Blockchain, Jaminan Keamanan Transaksi Sertifikat Emisi Karbon

Ridho turut memberi contoh penerapan sains data dalam dunia medis. Misalnya, terkait data-data pasien yang dikumpulkan seperti pasien diabetes 100 orang selama satu tahun, dan dilabeli pasien yang positif diabetes dan negatif.

“Saya ingin melihat, bisa tidak saya modelkan pola, pola pasien ini berdasarkan rekam medisnya,” ujarnya.

Rekam medis ini, kata dia, dapat dimanfaatkan kemudian hari memprediksi positif negatif pasien mengidap penyakit. Di Program Studi Magister UII sendiri, sains data sudah diberikan penekanan dan jadi konsentrasi studi.

Source link