Pendidikan di era new reality butuh re-modeling sistem belajar di kelas. Selain itu, juga diharuskan menerapkan revolusi industri 4.0.
Pandemi: Terapkan Revolusi Industri 4.0. Para panelis Seminar Nasional Prodi S-2 MM Umsida (Muhammad Yani/PWMU.CO)

PWMU.CO – Pandemi: Terapkan Revolusi Industri 4.0. Lembaga pendidikan juga butuh remodeling sistem belajar. Demikian yang disampaikan Dr Hidayatullah MSi.

Rektor Universitas Muhammadiyah Sidaorjo (Umsida) Sidoarjo itu menjadi keynote speaker dalam Seminar Nasional I via daring bertema Inovasi Manajemen Lembaga Pendidikan di Era New Reality, Sabtu (11/7/20).

Seminar yang diprakarsai Program Studi S-2 Magister Manajemen (Prodi MM) Fakultas Bisnis Hukum dan Ilmu Sosial (FBHIS) Umsida itu menghadirkan beberapa nara sumber.

Yaitu Anggota DPR RI Komisi X Prof Dr Zainudin Maliki MSi, Dekan FBHIS Umsida-Dosen Prodi MM Wisnu P Setiyono PhD, dan Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Umsida-Dosen Prodi MM Dr Sigit Hermawan SE MSi.

Moderator dalam kegiatan ini Direktur Direktorat Pengembangan Sumber Daya Manusia (DPSDM) Umsida Rifdah Abadiah SE MSMS CHCM.

Lembaga Pendidikan Harus Berbenah

Menurut Hidayatullah, selain harus siap re-modeling. Para pengelola lembaga pendidikan juga diharuskan segera beradaptasi di era new normal nanti. “Masing-masing lembaga pendidikan harus mulai berbenah serta menyiapkan diri dalam manajemen (tata kelola) dalam penyelenggaraan pendidikan di era new normal,” ujarnya.

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur itu mengatakan, dampak Covid-19 tidak hanya menyapu dunia kesehatan dan keuangan, namun juga dalam dunia pendidikan.

“Dampak Covid-19 menyasar segala hal, mulai dari kesehatan (fisik dan psikis), pendidikan, keagamaan, sosial ekonomi,  keuangan, dan lainnya. Adanya Covid-19 mengharuskan kita untuk mengimplementasikan revolusi industri 4.0,” paparnya.

Revolusi industri 4.0, lanjut dia, meniscayakan adanya penerapan teknologi yang menyatu dalam kehidupan diri pribadi dan masyarakat.

“Kita melihat perkembangan teknologi robotika, komputasi quantum, bioteknologi, internet, sistem otomatisasi, virtual, dan fisik dalam skala global. Saat ini dan mendatang, penguasaan iptek dan inovasi yang sejalan dengan revolusi industri 4.0 menjadi kunci daya saing global suatu bangsa,” jelasnya.

Maka, tambah dia, Covid-19 melahirkan realitas baru (new reality). Dan new reality melahirkan perubahan terus-menerus serta memaksa semuanya untuk bertindak adaptif, kreatif, dan inovatif tiada henti.

“Penyelenggara, pimpinan, dan pelaksana pendidikan perlu meningkatkan kemampuan digital dan kemampuan baru lainnya. Pimpinan lembaga pendidikan dituntut untuk mengembangkan e-leadership, e-manajemen dan e-monev,” terang Hidayatullah.

Merdeka Belajar Bukan Tujuan

Sementara itu, Anggota DPR RI dari Fraksi PAN Prof Zainuddin Maliki MSi menyoroti kinerja di Kementrian Pendidikan. “Kita sekarang hidup di era post-positivisme. Orang post-positivisme itu berorientasi pada kinerja. Nah, Mas Menteri (Nadiem Makarim) kerja keras supaya kinerjanya bagus. Dia terbebani pesan presiden agar mendekatkan lulusan pendidikan kita dekat dengan dunia industri,” ujarnya.

Konsekuensinya, kata Zainuddin Maliki, Menteri Nadiem mengemas berbagai macam kebijakan. “Untuk tingkat dasar dan menengah dengan merdeka belajar, sementara kampus merdeka untuk pendidikan tinggi,” tuturnya.

Beberapa pejabat di Kementerian Pendidikan, lanjut dia, menangkap merdeka belajar sebagai tujuan. Seperti direktur jenderal dan tenaga kependidikan, yang menganggap merdeka belajar sebagai tujuan.

“Merdeka belajar bukan tujuan, tetapi merupakan instrumen untuk meraih tujuan. Mas Nadiem sepakat bahwa merdeka belajar bukan tujuan. Tujuannya dirumuskan untuk membentuk pelajar Pancasila. Sedangkan merdeka belajar dia sebut sebagai metode meraih tujuan,” tambah Zainuddin Maliki.

Di kesempatan yang sama, Dekan FBHIS Wisnu P Setiyono SE MSi PhD menyatakan, model pembelajaran blended learning bisa menjadi alternatif di era new normal. “Kita telah secara luar biasa ‘dipaksa’ untuk beralih dari model pembelajaran tatap muka menjadi daring (online). Padahal itu sangat membutuhkan effort dan biaya yang tidak sedikit,”ungkapnya.

Maka e-learning, lanjutnya, memberikan fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses pelajaran. Mahasiswa tidak perlu mengadakan perjalanan menuju tempat pelajaran disampaikan. Dan e-learning bisa dilakukan dari mana saja. “Namun, ada beberapa evaluasi yang perlu diperhatikan terkait pembelajaran model daring, seperti kesiapan sarana prasarana, dosen dan mahasiswa, serta atmosfer akademik yang dibangun,” jelas Wisnu P Setiyono.

Penguasaan Aset Tak Berwujud

Sementara nara sumber ketiga Direktur DRPM Umsida Dr Sigit Hermawan SE MSi mengatakan, ada dua macam aset yang jika dikuasai akan menjadi pemimpin dunia. Dua aset tersebut adalah aset tak bewujud (intangible asset)  dan aset berwujud (intangible asset).

“Dulu pada tahun 80-an, yang mempunyai alat-alat berat dialah yang memimpin dunia dan menguasi bisnis. Namun kemudian, mulai tahun 2000 awal hingga saat ini 2020 di era industri 4.0, intelectual capital menampakkan dominasinya,” tutur Sigit Hermawan.

Maka, kata dia, kini terbukti saatnya untuk mengkritik atau mereduksi marketing mix, yang mengatakan place atau tempat memiliki peran penting dalam sebuah organisasi. Selain promosi, price, dan produk, place sekarang dipertanyakan.

“Bisnis kuliner atau bisnis apapun terhubung Go Food dan Grab Food. Artinya, dengan IT yang sedemikian rupa, tempat atau place tidak relevan. Sehingga sangat menguatkan model intelectual capital,” tambahnya. (*)

Penulis Muhammad Yani. Co-Editor Darul Setiawan. Editor Mohammad Nurfatoni



Source link