Ada 87 startup Indonesia yang meraih pendanaan selama semester I, berdasarkan catatan Chief Investment Officer BRI Ventures William Gozali. Ia memperkirakan, totalnya kini lebih dari 100 startup.

“Mungkin sekarang sudah lebih dari 100 pendanaan ke startup Indonesia. Secara akumulatif lebih dari US$ 1 miliar (sekitar Rp 14,3 triliun),” ujar William dalam konferensi pers terkait Gerakan Nasional 1000 Startup Digital, Sabtu (25/9).

Ia mengatakan, pendanaan ke startup Indonesia selalu meningkat setiap tahun, meski ada pandemi corona. DealStreetAsia melaporkan, startup di Asia Tenggara meraih investasi US$ 6 miliar atau sekitar Rp 87,7 triliun pada kuartal pertama atau menyentuh rekor.

Total pendanaan tersebut melonjak 43% secara tahunan (year on year/yoy) dan 48% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq). Hampir 70% dana terkumpul dari modal yang dijaminkan pada 2020.

Baca Juga:  Startup teknologi kesehatan, Halodoc, raih dana dari Yayasan Bill & Melinda Gates, Prudential, dan Allianz

Sedangkan pada tahun lalu, Cento Ventures mencatat bahwa pendanaan ke startup Asia Tenggara turun 3,5% yoy menjadi US$ 8,2 miliar. “Penurunan ini lebih kecil dibandingkan India 31% dan Afrika 38%,” demikian isi laporan bertajuk ‘SE Asia Tech Investment FY 2020’ pada akhir Maret (26/3).

Pada semester I 2020, pandanaan ke startup Asia Tenggara US$ 5,9 miliar. Sedangkan di semester II US$ 2,3 miliar.

Di satu sisi, ekonomi digital Nusantara diperkirakan US$ 44 miliar atau sekitar Rp 638 triliun tahun lalu. Indonesia dan Vietnam masih mencatatkan pertumbuhan, meski ada pandemi corona.

Untuk mendukung pengembangan startup di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pun kembali menggelar Gerakan 1000 Startup. Ini bertujuan memberikan pembinaan kepada calon perintis perusahaan rintisan.

Baca Juga:  Erick Thohir Janji Dukung Pengembangan Ekosistem Ekonomi Digital dan Startup

Selain itu, untuk membentuk ekosistem startup di Indonesia. “Kami ingin membuka wawasan bagi anak muda. Jangan hanya ingin bekerja, tapi juga membuka lapangan kerja,” kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan.

Sumber: KataData