[ad_1]

AKURAT.CO, “Wow, bajumu benar-benar tembus pandang. Apakah kamu memakai pakaian dalam yang serasi?” ucap seorang pria dengan nada melecehkan.

Sontak, ucapan pria tersebut langsung membikin risih Elizabeth Lee, seorang wanita berusia 23 tahun asal Singapura. Bahkan, saking risihnya, Lee berujar bahwa ia benar-benar merasa jijik dengan komentar pria tersebut.

Pelecehan verbal yang dialaminya tersebut memang hanyalah simulasi teknologi Virtual Reality (VR), tetapi itu sudah cukup membuat Lee merasa sangat terkejut hingga merasa terkonfrontasi.

baca juga:

“Saya akan berpikir bakal merespons dengan cara yang lebih konfrontatif. Rasanya sangat dekat secara fisik, benar-benar menjijikkan mendengar komentar kasar seperti itu,” ujar Lee.

Sebagaimana dilansir dari South China Morning Post, Lee dan sejumlah wanita Singapura lainnya kini tengah mengikuti program dari proyek kampanye virtual dari ‘Girl, Talk.’ Teknologi VR pun menjadi salah satu bagian dari proyek Girl, Talk untuk para perempuan Singapura agar lebih berani melawan hingga bersuara terhadap pelecehan seksual.

pelecehan seksual memang telah menjadi masalah utama di berbagai kampus universitas di Singapura khususnya setelah insiden yang dialami oleh seorang mahasiswi di salah satu lembaga top Singapura, Monica Baey.

Baey sempat mendapatkan begitu banyak perhatian lantaran ia berani menceritakan pelecehan seksual yang dialaminya melalui laman Instagram. Kala itu, Baey pun mengisahkan bagaimana pada sekitar November 2018 lalu, ia direkam diam-diam oleh seorang mahasiswa lain ketika tengah mandi di kamar asramanya.

Sejak itulah, keputusan Baey untuk ‘go public’ tersebut akhirnya menjadi semacam momen gerakan #MeToo Singapura.

Namun, Baey tidak sendiri. Pasalnya, Menteri Pendidikan Ong Ye Kung sebelumnya sempat menyebutkan bagaimana setidaknya ada 56 kasus pelanggaran seksual yang melibatkan para mahasiswa. Dalam keterangannya pada Mei tahun lalu, puluhan kasus tersebut bahkan dikatakan terjadi di enam universitas Singapura antara tahun 2015 hingga 2017.

Meski begitu, 56 kasus yang masuk di catatan parlemen tersebut jelas hanyalah segelintir contoh insiden pelecehan seksual di kalangan pelajar. Pasalnya, banyak siswa yang telah mengaku bahwa angka sebenarnya jauh lebih tinggi, terlebih banyak insiden tidak dilaporkan ke pihak berwajib.

Pun, klaim dari para siswa tersebut sejalan dengan data yang menyebutkan bagaimana kasus penganiayaan di Singapura meningkat lebih dari 15 persen menjadi 1.632 antara 2010 hingga 2019.

Serangan seksual yang melibatkan penetrasi juga disebutkan telah meningkat dari enam kasus pada 2016 menjadi 13 pada 2019. Namun, jumlah perkosaan yang dicatat oleh Pengadilan Negeri justru turun dari empat menjadi dua pada periode yang sama.

Selain itu, marital rape atau kasus perkosaan dalam pernikahan juga baru dikriminalisasi di Singapura pada tahun ini.

Negara Singapura memang selama ini dikenal relatif sangat aman, tetapi sebuah survei YouGov juga menemukan fakta bahwa lebih dari seperempat wanita di Singapura telah mengalami pelecehan seksual tetapi hanya 56 persen yang melaporkan insiden tersebut.

Namun, tetap saja tidak ada undang-undang khusus yang bisa dijadikan alat perlawanan ampuh untuk memberangus para pelaku pelecehan. Pasalnya, tindakan tersebut dicakup oleh KUHP dan Perlindungan yang lebih luas dari Undang-Undang Pelecehan, di mana hukuman maksimum biasanya hanya berkisar enam bulan penjara hingga denda sebesar SGD 5 ribu (Rp53,4 juta).

Sementara itu, Girl, Talk diketahui diciptakan oleh empat mahasiswa dari Universitas Teknologi Nanyang (NTU), yaitu Danelia Chim, Seow Yun Rong, Heather Seet, dan Dawn Kwan. Sementara, dalam kaitannya dengan program VR ini, keempat pelopor Girl, Talk berharap bisa meningkatkan kesadaran hingga memberikan teknik bagaimana cara terbaik untuk merespons pelecehan seksual di setiap situasi.

“Bahkan jika Anda tengah terjebak dalam situasi yang rentan secara fisik, bisa mengevaluasi situasi dan membuat pilihan tentang bagaimana berperilaku serta bereaksi, akan bisa sangat bermanfaat,” terang Girl, Talk di situs web resmi mereka.

Sementara itu, simulasi VR yang ditawarkan Girl,Talk menampilkan lima skenario berdasarkan pengalaman nyata. Untuk menciptakan adegan ini, para pencipta Girl, Talk bahkan diketahui sampai meminta teman-teman pria untuk memerankan skenario hingga memfilmkan skenario.

Terobosan Girl, Talk di Singapura ini sendiri disebutkan terinspirasi oleh karya serupa dari psikolog dari sebuah universitas Amerika Serikat (AS). Disebutkan pula bagaimana dalam program psikolog AS tersebut, wanita muda justru memiliki reaksi yang lebih kuat terhadap skenario virtual daripada permainan peran konvensional.

Manfaat simulasi pelecehan seksual VR ini juga turut dirasakan oleh Lee dan peserta lainnya, Chin Hui Shan. Dalam penuturannya, Lee bahkan berujar bahwa ia sudah siap secara emosional setelah mengikuti pelatihan virtual dari Girl, Talk.

“Saya pikir ini jelas bisa mempersiapkan saya agar lebih baik untuk berbagai kemungkinan (situasi). Secara emosional saya siap. Saya akan tahu langkah apa yang harus diambil selanjutnya.

“Saya akan tahu (bagaimana cara) untuk memberi tahu seorang teman, dan mendapatkan dukungan dari komunitas di sekitar saya dan kemudian pergi dan mengambil tindakan lebih lanjut jika perlu.

“Saya benar-benar berpikir bahwa itu (pelecehan) cukup umum, hanya saja sayangnya telah dinormalisasi. Ketika Anda benar-benar pergi dan membedah apa yang orang katakan kepada Anda, beberapa dari hal-hal ini benar-benar sedikit kasar dan sangat tidak pantas, dan perlu diakui bahwa mengatakan hal-hal tentang tubuh wanita adalah tidak benar,” lanjut Lee.

“Itu membuat saya sadar bahwa saya menghadapi masalah ini,” tambah Hui Shan.[]

[ad_2]

Source link