Jakarta: Pengembangan obat terus dilakukan untuk menghasilkan produk yang bermanfaat bagi umat manusia. Kendati begitu, pengembangan obat membutuhkan tahapan proses yang panjang dan tidak mudah.

Bahkan, perlu waktu hingga bertahun-tahun dan memakan biaya besar. “Proses penemuan obat cukup kompleks, bisa sampai 8-16 tahun. Tidak hanya lama, tetapi juga butuh biaya besar untuk bisa merilis satu molekul obat,”terang Guru Besar Sekolah Farmasi ITB, Prof. Apt., Daryono H. Tjahjono, Ph.D. dikutip dari laman UGM, Jumat, 17 Juli 2020.

Namun begitu, dia menyebutkan metode komputasi atau pemanfaatan komputer dapat membantu proses efisiensi dalam penemuan obat. Untuk menghasilkan satu molekul dengan percobaan standar biaya yang dibutuhkan rata-rata sebesar Rp. 18 triliun.

Baca Juga:  UI Teliti Sel Punca untuk Pengobatan Pasien Pneumonia Covid-19

“Dengan bantuan komputasi biaya bisa jadi setengahnya. Kemajuan komputasi baik software maupun hardware sangat berpengaruh dalam efisiensi penemuan obat ini,” terangnya.

Selain itu, dengan metode komputasi juga dapat memangkas waktu dalam menyaring ribuan molekul dan menemukan senyawa potensial yang bisa digunakan sebagai obat baru. Dia mencontohkan, metode tersebut telah dipakai dalam membantu menemukan senyawa yang berpotensi untuk mencegah penyakit tidur atau tripanosomiasis yang menjadi penyakit endemik di Afrika.

Melalui komputasi berhasil menemukan sekitar tiga hingga lima senyawa yang potensial dari 4.803 senyawa yang diteliti. “Metode ini saat ini juga digunakan untuk menemukan senyawa potensial untuk membantu mencegah virus corona SARS-Cov-2,” terangnya.

Baca Juga:  Mahasiswa UGM Rancang Alat Deteksi Glaukoma Berbasis Kecerdasan Buatan, Begini Cara Kerjanya

Sementara Pakar herbal sekaligus Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. Apt., Suwijiyo Pramono menyampaikan potensi besar tanaman herbal yang dimiliki Indonesia. Kendati begitu, potensi yang ada belum tereksplorasi dengan baik.

“Ada 30 ribu spesies tanaman yang tumbuh dari Sabang sampai Merauke dan 3.000 di antaranya merupakan komponen jamu Kita. Lalu, 300 spesies tanaman telah digunakan industri herbal, masih banyak yang belum tereksplorasi,” paparnya.

Oleh sebab itu, dia mengatakan perlunya dilakukan eksplorasi secara tepat dan efektif. Beberapa di antaranya seperti tidak mengekspor bahan mentah­, menetapkan strategi untuk eksplorasi secara efisien, dan seleksi prioritas dari program eksplorasi.Berikutnya, memberikan kesempatan pada industri untuk memproduksi produk tanaman obat berdasarkan riset dari lembaga pendidikan tinggi dengan fasilitasi pemerintah. Langkah tersebut perlu dilakukan untuk menetapkan riset yang baik dan berorientasi pada produk

Baca Juga:  Mahasiswa UGM ciptakan aplikasi skrining kanker mulut berbasis android

Peneliti dan dosen Fakultas Farmasi UGM, Dr. Apt., Hilda Ismail, Ph.D., memaparkan tentang pengalaman dalam pengembangan parasetamol memanfaatkan produk industri petrokimia. Selain itu, dia juga menyampaikan tentang strategi kemandirian bahan baku obat dari hulu dan hilir dengan memanfaatkan bahan alam keberadaanya cukup berlimpah di Tanah Air.

(CEU)

Source link