[ad_1]

Cyberthreat.id – Dirjen SDPPI Kementerian Kominfo, Ismail, mengenalkan konsep ICT (TIK) Building Blocks yang dimiliki Indonesia. Menurut dia, ICT Building Blocks adalah serangkaian komponen yang harus dibangun dan diselesaikan untuk menuju transformasi digital.

“Tugas dan fungsi dari Kementrian Kominfo itu menjadi orkestrator, menjadi dirijen untuk bisa menyelesaikan ICT Building Blocks,” kata Ismail dalam webinar Mendorong Akselerasi Transformasi Digital – Peran Infrastruktur TIK, Senin (20 Juli 2020).

ICT Building Blocks, kata dia, adalah segala hal yang mencakup komponen infrastruktur, platform/aplikasi, konten atau data, regulasi, digital talent/SDM serta security. Dengan kata lain, Building Blocks dalam infrastruktur TIK mencerminkan semua elemen dasar industri TIK termasuk hardware, software, SDM, jaringan, dan informasi.

1. Komponen Infrastruktur.

Infrastruktur merupakan prasyarat sebelum Indonesia menuju era transformasi digital. Komponen infrastruktur terdiri dari kesiapan jaringan, telco operator dan device atau perangkat. Ketiganya, kata Ismail, harus dibangun dan diselesaikan terlebih dahulu.

“Karena kalau tidak, kita tidak mungkin bisa melakukan proses pemindahan aktivitas kita ke ruang digital,” ujar dia.

Baca Juga:  Delapan Sutradara Bikin Film Virtual Reality Usung Disabilitas

Infrastruktur dapat dikatakan sukses apabila ketiganya sudah merata ke seluruh pelosok di Tanah Air, berkualitas, dan juga terjangkau oleh masyarkat secara luas.

2. Komponen Platform/Aplikasi

Diatas infrastruktur terdapat aplikasi. Menurut Ismail, infrastruktur tidak akan ada manfaatnya kalau tidak bisa memanfaatkan dengan platform atau aplikasi yang bermanfaat dan memberikan solusi.

Platform/aplikasi akan berhubungan dengan masalah yang dihadapi masyarakat. Sebagai contoh, ketika pandemi Covid-19, dimana pertemuan tatap muka tidak disarankan, maka dibutuhkan platform atau aplikasi agar tetap terhubung secara online. Sebut saja aplikasi kegiatan belajar mengajar dan pembelajaran jarak jauh (e-Learning).

Sayangnya saat ini kebanyakan platform atau aplikasi yang populer di kalangan masyarakat Indonesia sebagian besar dikuasai oleh asing. Google dan Facebook misalnya. Bahkan, masyarakat lebih familiar dengan aplikasi/platform yang dikembangkan negara lain.

“Ke depan menjadi suatu tantangan yang sangat penting agar (platform) bisa dibangun secara lokal,” ujarnya.

Baca Juga:  Alibaba buka lowongan kerja di Indonesia, berminat?

3. Komponen Konten atau Data.

Konten atau data berhubungan erat dengan platform/aplikasi. Data dihasilkan oleh penggunaan platform/aplikasi. Ismail sangat menyayangkan kenapa data yang dihasilkan di Indonesia malah dimanfaatkan oleh asing.

“Konten dan data informasi ini adalah milik Indonesia. Masa depan ada di sana dan disebut sebagai emas baru atau barang tambang baru yang luar biasa value-nya. Disitu ada konten yang harus dijaga, ada konten pribadi, ada konten ekonomi, ada konten strategis pertahanan keamanan,” ungkap Ismail.

4. Komponen Regulasi.

Komponen infrastruktur, platform/aplikasi, dan konten/data semuanya harus didukung dengan regulasi atau payung hukum yang memadai dan komprehensif.

“Jadi, regulasinya punya regulasi sendiri-sendiri. Regulasi untuk infrastruktur bagaimana, regulasi untuk mengatur platform atau aplikasi bagaimana dan regulasi untuk mengatur konten dan informasi diatasnya itu harus diatur sendiri-sendiri,” ujar Ismail.

5. Komponen Digital Talent/SDM.

Dukungan SDM yang biasa disebut Digital Talent oleh Kominfo juga sama pentingnya. Setiap komponen harus didukung oleh kemampuan SDM dengan kapasitas atau skill yang cukup.

Baca Juga:  AWS Gelar DeepRacer Women’s League di Asia Tenggara

Indonesia ke depan membutuhkan dan harus menghasilkan 600 ribu talenta digital setiap tahunnya. Termasuk kebutuhan terhadap teknologi dan skill seperti Big Data Analytics, Artificial Intelligence (AI), Cybersecurity, Cloud Computing, Internet of Things (IoT), Machine Learning, dan sebagainya.

6. Security.

Security atau keamanan tak kalah penting. Security ini merupakan komponen yang harus ada dan dijaga pada setiap komponen lainnya. Sebab, security yang terjaga akan memunculkan ketidakpercayaan. Jika masyarakat tidak percaya kepada ruang digital Indonesia, bakal berujung pada sulitnya Indonesia memasuki era transformasi digital.

Malahan, kata Ismail, ketidakpercayaan bisa menjadi bumerang alias backfire.

“Kalau tidak secure, tidak aman, maka proses transformasi digitalnya akan menjadi backfire,” tambah Ismail.

ICT Building Block harus dibangun dan diselesaikan secara serentak. Menurut Ismail, jika Building Blocks dibangun secara serial, secara bertahap, maka proses transformasi digital tidak akan pernah bisa berjalan maksimal atau optimal. []

Redaktur: Arif Rahman



[ad_2]

Source link