Banyak guru dan orangtua dinilai masih belum memahami secara utuh kecerdasan pada anak. Kecerdasan anak masih dianggap sesuatu yang bersifat angka atau ranking.

Hal tersebut seperti yang disampaikan Mohamad Thohir, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya yang juga praktisi Multiple Intelligences System dalam seminar Bedah Buku “Inovasi Pembelajaran PAI Berbasis Multiple Intelligences System”.

Seminar yang diselenggarakan secara virtual tersebut diselenggarakan LP2M INAIFAS (Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyah) Kencong, Jember, Jawa Timur, Sabtu (18/7/2020).

Dalam seminar itu, Thohir menjelaskan bahwa selama ini fenomena kecerdasan menyebabkan pengelompokan pada anak-anak baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

Misal, seorang guru yang menganggap muridnya yang suka terlambat datang ke sekolah atau suka mengganggu temannya dianggap tidak cerdas.

Baca Juga:  Hanya Gegara Game Online, Bocah 13 Tahun Ini Disekap Tanpa Sehelai Benang oleh Ayah Kandung di Kandang Ayam, Berhasil Kabur Lompati Pagar Setinggi 3 Meter dengan Kaki Terborgol Setelah Lakukan Cara Ini - Semua Halaman

“Contoh lainnya, orangtua yang menilai anaknya tidak cerdas hanya karena anaknya yang tidak menurut dan suka bermain,” kata Thohir yang juga seorang trainer Multiple Intelligence (MI) tersebut.

Tidak hanya itu, kecerdasan pada anak yang belum dipahami secara utuh oleh masyarakat dapat berdampak negatif pada anak atau siswa.

Seperti munculnya labelisasi pada anak-anak yang dianggap tidak cerdas di sekolah maupun di rumah.

“Jangan-jangan sepertinya selama ini kita membuat definisi anak cerdas semau kita tanpa ada dasar keilmuannya,” tutur pria asal Lumajang, Jawa Timur itu.

Untuk menjelaskan mengenai definisi kecerdasan, Thohir mengutip definisi kecerdasan dari Howard Gardner, pencetus teori Multiple Intelligence (MI) yang juga pakar pendidikan asal Amerika Serikat (AS).

Baca Juga:  Simak Kisah Orang Terkaya di Dunia: Steve Ballmer, Mantan CEO Microsoft Sobat Bill Gates

Menurut Gardner, lanjut Thohir, kecerdasan adalah proses kemampuan komputasi atau kemampuan untuk memproses informasi tertentu yang berasal dari faktor biologis dan psikologis manusia.

Berangkat dari definisi tersebut, Thohir percaya bahwa setiap anak memiliki kemampuan yang sama untuk memproses informasi di sekitarnya.

“Hanya saja kita kemudian terjebak pada meranking anak. Yang dapat ranking rendah maka langsung dianggap tidak cerdas,” ujarnya.

Selain itu, dia menambahkan bahwa hasil tes IQ (Intelligence Quotient) yang sering dipakai untuk menilai kecerdasan seseorang, masih disalahartikan dan disalahgunakan.

Menurutnya, hasil tes IQ tidak dimaksudkan untuk melabeli seseorang itu cerdas atau tidak cerdas.

“Howard Gardner mengatakan jangan sampai kita terjebak pada (tes) IQ (untuk menilai kecerdasan pada anak). Tapi tes IQ untuk mengetahui kemampuan anak dan membantu mereka agar menjadi lebih baik,” jelasnya.

Baca Juga:  Simak Kisah Orang Terkaya di Dunia: Steve Ballmer, Mantan CEO Microsoft Sobat Bill Gates

Dalam kesempatan yang sama, Titin Nurhidayati, penulis buku Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Multiple Intelligences System mengamini penjelasan tentang kecerdasan dari Mohamad Thohir.

Bahkan, Titin meyakini bahwa setiap anak dapat mengembangkan kemampuan dan kecerdasannya di bidangnya masing-masing.

“Tidak ada anak yang bodoh. Semua anak cerdas di bidangnya masing-masing,” imbuhnya.

Seminar virtual yang membahas tentang Multiple Intelligences System dan kecerdasan anak tersebut didukung TIMES Indonesia sebagai media partner. Selain dihadiri narasumber, acara itu juga diikuti oleh Rektor INAIFAS Kencong Rijal Mumazziq Zionis dan Ketua LP2M INAIFAS Kencong Akhmad Rudi Masrukhin. (*)

Source link