Kepala SD 4 Jepang Sri Utami mengatakan jika tidak semua siswanya memiliki gadget atau HP android untuk dapat menerima bahan ajar secara online.

“Dari jumlah total 92 siswa,  lebih dari 50 persen yang tidak memiliki HP. Ada juga yang orang tuanya memiliki HP, namun kadang juga dibawa bekerja. Jadi sulit untuk melakukan pembelajaran daring,” katanya.

Jadi, dalam pembelajaran daring, dibutuhkan kepedulian dan dukungan orang tua agar hal itu dapat berlangsung dengan baik dan lancar.

“Materi kan di share melalui grup WA. Kendalanya memakai sistem daring ya komponen utama HP dan paket internet, maka dibutuhkan peran orang tua disini,” kata Sri Utami, Senin (13/7/2020).

Baca Juga:  Internet Sehat dan Aman: Ini 6 Etika yang Harus Diterapkan dalam Berinternet

Dirinya dan guru lainnya dalam pembelajaran sejak pandemi covid-19 lalu menyambangi rumah siswa untuk memberi pelajaran dan tugas kepada siswanya.

Namun sayangnya, para guru malah seringkali tidak ketemu dengan orang tua siswa karena bekerja. Bahkan terkadang, siswanya bermain  sehingga para guru juga tidak ketemu.

Oleh karenanya, jika diizinkan pihaknya akan menyelenggarakan pembelajaran secara tatap muka. Yakni dengan pembatasan dan protokol kesehatan yang ketat. Seperti pengecekan suhu, penggunaan masker, serta penggunaan face shield yang dibagikan secara gratis untuk siswa.

Rencanannya, jika memang diizinkan pembelajaran tatap muka akan dilakukan sepekan tiga kali yakni Senin, Rabu dan Jumat, dengan cara bergantian serta durasi satu jam untuk menyampaikan materi.

Baca Juga:  Sebagai Area Blank Spot, Kawasan Berambai di Samarinda Jadi Sasaran Perluasan Jaringan Internet

Dijelaskan Sri Utami, jika hari ini (Hari pertama tahun ajaran baru) pihaknya memang sengaja mengundang para siswa baik siswa baru maupun siswa kelas 2 – 6 untuk datang kesekolah. Kedatangan mereka ke sekolah adalah untuk dilakukan skenario pembelajaran protokol kesehatan.

Sementara itu, ditemui di kantornya, Harjuna Widodo, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olah Raga (Disdikpora) Kabupaten Kudus menanggapi jika siswa belajar dari rumah selain secara daring (dalam jaringan), juga bisa dilakukan secara luring (luar jaringan).

“Luring bukan hanya diartikan tatap muka, tapi juga pembelajaran dari rumah bisa
melalui buku, televisi dan juga radio. Karena Kudus belum zona hijau
pembelajaran saat ini tetap dilakukan di rumah,” jelasnya. (AJ/YM)

Baca Juga:  Emosi hingga Gelisah, Ini Ciri-ciri Anak Kecanduan Internet

Source link