Jakarta

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengungkap kendala mahasiswa dalam melakukan pembelajaran daring. Mahasiswa mengeluhkan koneksi internet yang buruk hingga beban tugas yang berat.

Hal itu diketahui dari survei yang digelar Kemendikbud terkait pembelajaran daring atau belajar jarak jauh terhadap 230 ribu mahasiswa yang tersebar di 32 provinsi pada akhir Maret 2020 lalu. Mahasiswa responden dari tahun masuk kuliah 2015 hingga 2019. Namun, tak dijelaskan lebih lanjut soal metode survei maupun pemilihan responden.

Berdasarkan hasil survei, diketahui bahwa 98 persen perguruan tinggi sudah melakukan pembelajaran daring, dan mahasiswa mengandalkan handphone sebagai alat kuliahnya. Mahasiswa pun mengeluhkan koneksi internet yang buruk.

“Dari evaluasi mahasiswa, disampaikan sebagian besar mahasiswa mengatakan mereka sangat siap dan siap untuk menghadapi pembelajaran daring. Ini tidak heran karena generasi milenial yang terbiasa dengan gadget. (Sebanyak) 27 persen mengatakan tidak siap, tapi kalau kita dalami sebagian besar alasannya karena koneksi internet yang lemot, tidak merata,” kata Plt Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud, Nizam, dalam rapat di Komisi X DPR, Kamis (9/7/2020).

Baca Juga:  Ormas Diduga Abal-abal di Program Organisasi Penggerak

“Karena pada akhir Maret tersebut, dari survei yang sama, kita dapatkan sekitar 70 persen mahasiswa itu sudah kembali ke kampung halamannya masing-masing. Di daerah-daerah yang blankspot itu masih mengalami kesulitan,” imbuhnya.

Sebanyak 46 persen responden mahasiswa menyatakan kualitas perkuliahan daring bagus, dan 46 persen responden mahasiswa menilai bahan ajar dosen, meskipun disebut Nizam banyak dosen yang belum siap, juga bagus. Di sisi lain, mayoritas mahasiswa menilai koneksi internet untuk kuliah daring buruk hingga sangat buruk.

“Dari sisi pemahaman kuliah, ternyata cukup baik. Ini juga kami lega, karena tadinya kami khawatir juga kalau pembelajaran daring ini tidak bisa men-deliver kuliah dengan baik. Yang menjadi masalah utama adalah koneksi internet, jadi kalau kita lihat itu 60 persen lebih mengatakan masalah dengan koneksi yang buruk hingga sangat-sangat buruk,” ungkap Nizam.

Baca Juga:  Sekolah Buka Kala Corona, FSGI Singgung Akses Internet Buruk

Dari hasil survei diketahui juga mahasiswa menilai kelebihan kuliah daring adalah bisa lebih rileks hingga kuliah sambil tiduran. Di sisi lain, kekurangan kuliah daring yang disampaikan mahasiswa selain koneksi internet adalah beban tugas yang berat.

“Hal yang menarik, kelebihan dari pembelajaran daring sebagain besar mengatakan ini pengalaman baru dan lebih rileks, tidak perlu ke kampus, bisa belajar dari rumah, kadang-kadang sambil tiduran, dan sebagainya,” kata Nizam.

“Tapi kekurangannya, terutama pada koneksi. Kemudian yang kedua, pada beban tugas yang berlebihan. Ini di awal-awal terutama, jadi survei dilakukan di bulan pertama pembelajaran daring, dosen yang belum siap ya memberi tugas saja, sehingga mahasiswa terbebani dengan tugas yang banyak,” pungkasnya.

Baca Juga:  30 Medali Diperebutkan dalam Kompetisi Sains Nasional 2020

Tonton juga ‘Jokowi: Kuliah Daring Lambat Dijalankan, Sekarang Jadi New Normal’:

[Gambas:Video 20detik]

(azr/gbr)



Source link