Upaya pemberdayaan anak-anak muda desa sekitar perusahaan yang dilakukan PT Semen Gresik juga diwujudkan melalui progam Sanggar Seni Semen Gresik.

Lewat program ini, Semen Gresik mengajak anak-anak muda di desa sekitar perusahaan terlibat aktif dalam pelestarian seni budaya lokal.

Dampak negatif penggunaan gadget di kalangan anak muda juga berusaha diredam. A

nak-anak muda itu bahkan BUMDes setempat juga ikut mendapat keuntungan ekonomi dari kegiatan itu.

Seperti apa?

Suara Ria Wahyu Wibowo (23), terdengar menggebu saat menceritakan aktivitas anak-anak Sanggar Singo Wahyu Wibowo yang ada di Desa Pasucen, Gunem, Rembang.

Sebelum pandemi Covid-19, tiap akhir pekan, biasanya puluhan remaja dan pemuda tanggung berusia 15 – 19 tahun dari sejumlah desa di Kecamatan Gunem seperti Desa Pasucen, Suntri, Tegaldowo, Timbrangan maupun kecamatan tetangga semisal Bulu, Sale (Rembang) bahkan ada juga dari Kabupaten Blora itu berkumpul di sanggar yang terletak di belakang Balai Desa Pasucen itu.

Aktivitas yang dilakukan beragam.

Mulai dari latihan gamelan, tari jathilan hingga memperbaiki peralatan yang rusak.

Usai latihan, mereka jagongan di rumah Bowo (panggilan akrab Ria Wahyu Wibowo) yang lokasinya tak jauh dari Balai Desa Pasucen.

Menurut Bowo, jika ditotal anggota sanggar sebenarnya sekitar 40 orang.

Namun yang sering latihan sekitar 25 orang.

Sebab anggota sanggar lainnya rumahnya memang terlalu jauh seperti Bojonegoro dan Tuban, Jawa Timur.

Anggota yang seperti ini biasanya kumpul saat akan ada pertunjukan.

“Tawaran manggung sebenarnya masih banyak, ada yang dari Rembang, Blora bahkan Jawa Timur. Tapi karena sekarang masih pandemi Covid-19, maka aktivitas yang kita lakukan membersihkan peralatan. Semoga pandemi segera berakhir sehingga kami bisa manggung lagi,” harap Bowo.

Peralatan yang dimaksud Bowo merupakan seperangkat gamelan dan dada merak (lazim ada saat pertunjukan Reog Ponorogo) bantuan dari PT Semen Gresik.

Jika dinominalkan bantuan tersebut senilai Rp 255 juta.

Tak hanya itu, Semen Gresik juga melakukan renovasi Sanggar Singo Wahyu Wibowo.

Selain itu membuatkan kaos dan nantinya juga seragam untuk penari jathilan sanggar.

Peralatan yang lengkap ini bisa menaikkan tarif pertunjukan.

Untuk pentas karnaval dengan peralatan biasa, tarifnya sekitar Rp 4 juta – Rp 5 juta sekali tampil.

Namun jika peralatan paket komplit maka tarifnya bisa mencapai Rp 20 juta untuk sekali tampil.

Semen Gresik tak hanya membantu peralatan saja.

Beberapa kali, anak-anak Sanggar Singo Wahyu Wibowo juga “ditampilkan” di depan umum saat ada kegiatan yang diadakan Semen Gresik.

Semisal saat kegiatan Peringatan Hari Air Sedunia di Sendang Brubulan, Desa Pasucen.

Bahkan Sanggar Singo Wahyu Wibowo juga diminta “mewakili” Semen Gresik saat Kirab Hari Jadi Rembang.

“Sebelumnya kami hanya punya barongan kecil. Jika pentas kami menyewa gamelan dari luar karena memang tak punya sendiri. Makanya kami berterima kasih karena Semen Gresik ternyata sangat peduli dengan seni budaya tradisional,” ujarnya.

Mengapa Semen Gresik peduli dan mengapresiasi?

Hal ini juga tidak terlepas dari aktivitas dan dedikasi pemuda asal Desa Pasucen ini.

Pemuda lulusan Kejar Paket C (setara SMA/Sederajat) ini mampu menggerakkan anak-anak, remaja hingga pemuda untuk ikut melestarikan seni budaya lokal.

Bowo yang bertahun-tahun mendalami seni budaya lokal ini gelisah karena ternyata anak-anak di desa juga suka menghabiskan waktu dengan gadget.

Apalagi setelah booming game online.

Dengan telaten, Bowo mengajak serta mengajari seni barongan kepada anak-anak dan remaja di desanya.

Ada yang diajari main gamelan, belajar tukang pecut, slompret, bopo, penari jathil, penari buto, dan lainnya.

Ternyata seiring waktu peminatnya banyak bahkan hingga luar desa.

“Saya ajak mereka latihan untuk meminimalisir dampak negatif gadget. Daripada menghabiskan waktu untuk hal tidak jelas maka mending digunakan untuk sesuatu yang positif,” jelasnya.

Kepala Desa Pasucen Salamun mengapresiasi upaya yang dilakukan PT Semen Gresik.

Menurutnya, upaya itu kian menyemangati pemuda di desanya dalam melestarikan seni budaya tradisional.

Menurut Salamun, Sanggar Singo Wahyu Wibowo juga berkontribusi untuk menambah PAD Desa Pasucen. Sebab saat ini, BUMDes Pasucen juga dilibatkan dalam pengelolaan pertunjukan sanggar tersebut.

“Semen Gresik sangat berkontribusi dalam berbagai bidang di Desa Pasucen. Mulai dari program air bersih hingga seni budaya. Kami mengapresiasi support Semen Gresik,” jelas Salamun.

Kepala Unit Komunikasi dan Bina Lingkungan PT Semen Gresik Syaichul Amin mengatakan selain bidang seni budaya, Semen Gresik juga memiliki berbagai program kegiatan lain untuk pemberdayaan anak-anak muda desa sekitar perusahaan.

Mulai dari program Edupark, pertanian perkebunan perikanan dan peternakan terpadu (P4T), Sahabat Ternak Semen Gresik dan lainnya.

Menurut Syaichul Amin, berbagai program tersebut selain pemberdayaan anak-anak muda juga sekaligus untuk penguatan kapasitas pengelola BUMDes desa sekitar perusahaan.

Ia mencontohkan BUMDes “Bangun Deso” Desa Kajar, Kecamatan Gunem yang mengelola Edupark. BUMDes desa sekitar perusahaan ini diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan berbagai sektor kehidupan masyarakat sekitar.

“Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) warga sekitar perusahaan akan terus kita tingkatkan lewat berbagai program kegiatan pemberdayaan Semen Gresik,” tandasnya. (*)

Source link