Moka POS membangun teknologi point-of-sale (POS) mobile untuk usaha kecil dan menengah di Indonesia. Mudah menemukan terminal pembayaran Moka di banyak butik dan restoran di seluruh Indonesia.

Sebagai startup yang didirikan pada tahun 2014, Moka adalah salah pioner di kancah fintech Indonesia dan sejauh ini telah mengumpulkan hampir USD 40 juta dari para investor yang mencakup investor tahap awal yang produktif, East Ventures dan “unicorn maker” Sequoia Capital.

Sekarang sepertinya Moka akan bergabung menjadi perusahaan yang jauh lebih besar. Mengutip dari sumber yang terpercaya, bahwasanya perusahaan teknologi paling bernilai di Indonesia, Gojek, berencana mengakuisisi Moka.

Namun Moka menegaskan bahwa ini hanya rumor. “Kami tidak mengomentari spekulasi pasar,” kata seorang juru bicara mereka.

Moka POS memang bermitra dengan dompet Go-Pay dalam ekosistem pembayarannya, yang berarti mitra Moka dapat menerima Go-Pay sebagai bentuk pembayaran tanpa uang tunai. Moka telah menjadi platform independen sejauh ini dan juga menerima pembayaran digital dari banyak perusahaan lain, beberapa di antaranya dapat dianggap sebagai saingan bagi Go-Pay, termasuk Ovo, serta dompet ponsel lainnya seperti Dana dan LinkAja. Selain itu, Moka POS menerima solusi pembayaran tanpa uang tunai seperti kartu kredit yang ditawarkan oleh Kredivo dan Akulaku.

Menanggapi permintaan kami untuk mengomentari akuisisi, Gojek juga mengatakan bahwa mereka tidak “mengomentari rumor dan spekulasi.”

Selalu mungkin terjadi kesepakatan meskipun itu pada tahap berikutnya, tetapi menyelesaikan akuisisi Moka akan cocok dengan pola bagaimana Gojek telah mengembangkan kemampuan pembayarannya di masa lalu.

Pada tahun 2016 Gojek mengakuisisi MVCommerce, sebuah langkah strategis di mana ia memperoleh lisensi e-money yang membentuk basis untuk dompet Go-Pay. Pada tahun 2017, perusahaan mengakuisisi Midtrans, Kartuku, dan Mapan; tiga perusahaan pembayaran terkemuka di Indonesia yang masing-masing melayani segmen yang berbeda.

Moka, yang memiliki ikatan dekat dengan pedagang UKM offline akan menjadi bagian lain dalam teka-teki. Membantu mempromosikan penggunaan Go-Pay untuk pembelian yang dilakukan secara offline hanyalah salah satu keuntungannya. Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, CTO Moka Grady Laksmono mengatakan bahwa perusahaan memiliki 18.000 pedagang di 200 kota di seluruh jaringannya dan telah tumbuh melampaui fungsi aslinya sebagai POS bergerak. Ini sekarang juga mencakup program manajemen hubungan klien, perangkat lunak manajemen sumber daya manusia, dan cara untuk menyalurkan pinjaman kepada mitra dagang.

Merger juga masuk akal karena alasan lain. Gojek adalah salah satu dari beberapa aplikasi lokal yang telah mencapai skala massal. Bergabung dengan Gojek dapat membawa manfat bagi Moka agar memiliki akses ke puluhan juta pengguna dan jaringan pedagang besar yang mungkin belum pernah terpapar sebelumnya. Gojek ingin memperkuat posisinya di Indonesia dan mengunci sebanyak mungkin mitra, mengingat saingan terbesarnya, Grab, baru-baru ini mengatakan akan terus berinvestasi dan berekspansi di Indonesia dengan potensi investasi miliaran dolar.

Dengan diakuisisi oleh perusahaan yang lebih besar adalah satu cara startup dapat memberikan keuntungan kepada pemegang saham mereka. Banyak startup yang membagikan DNA investor. Moka dan Gojek, misalnya, keduanya merupakan bagian dari portofolio Sequoia India. Di pasar yang matang seperti Indonesia, di mana “exit opportunity melalui IPO besar masih bisa terjadi di tahun mendatang.

Tidak hanya perusahaan pembayaran – Gojek telah mengambil alih beberapa startup, kasus baru-baru ini adalah platform tiketing Loket, untuk memperkuat posisinya di berbagai vertikal.

Sementara itu, Pawoon, pesaing Moka, baru-baru ini menjual 30% kepemilikan saham kepada perusahaan teknologi yang terdaftar di BEI, Diva.