BANGKAPOS.COM, BANGKA— Pandemi Covid-19 yang mengharuskan semua orang beraktivitas di rumah, membuat para orangtua berusaha menyeimbangkan pekerjaan, mengasuh anak, bahkan sekolah di rumah.

Namun, penyesuaian diri dengan rutinitas baru ini rupanya bukan hanya menjadi tekanan untuk para orangtua, karena anak-anak juga merasakannya.

Dengan hal ini juga menyebabkan gejala trauma pada anak-anak, hingga kecanduan gadget yang terlalu berlebihan dirasakan oleh anak-anak.

Ketua Dewan Pendidikan Babel Prof Bustami Rahman mengatakan, gejala tersebut merupakan gejala yang biasa.

Bahkan sebelum ada covid-19 anak-anak di era teknologi seperti ini sudah tidak ingin lepas lagi dari gadget.

“Nah tentu saja gejala yang biasanya kalau diambil gadgetnya menjadi menangis itu menjadi lebih meluas, artinya saat ini semakin banyak sekali waktu luang anak-anak untuk bermain gadget selama tidak sekolah ini,” kata Bustami kepada Bangkapos.com, Senin (20/07/2020)

Dia menyebutkan, anak-anak cenderung lebih bermain gadget itu karena tidak ada permainan lain yang dapat ia lakukan.

“Karena tidak ada permainan lain, nah maka dari itu saya menggagaskan bersama lembaga adat melayau serta yang lainnya untuk menciptakan permainan tradisional di luar rumah yang aman tentunya,” sebutnya

Menurutnya, peralihan kembali pada permainan tradisonal itu sedikitnya mengubah pola pikir anak-anak yang hanya ingin bermain dengan gadget akhirnya keluar dan bermain bersama temannya kembali.

“Kalau dalam sosiologi kita sebut tradisionalisasi, nah permainan-permainan yang mulai hilang seperti caklingking, Ela, Sembunyi Gong, itu kita harapkan kembali, coba dimainkan lagi sama anak-anak zaman sekarang, akan kita coba terapkan di desa-desa terlebih dahulu,” jelasnya

Dia menuturkan, dengan demikian anak-anak tidak hanya bermain gadget saja ketika berada dirumah, namun ada permainan lain yang dapat dilakukan.

“Dengan demikian kalau kita hidupkan kembali permainan-permainan tradisonal itu bisa mengalihkan yang awalnya hanya dirumah bermain gadget kini bisa keluar rumah bermain sama teman-temannya, kita balik kan kembali lah jangan sampai terlalu mengikuti moderenisasi ini,” tuturnya

Sementara itu, menurutnya, peran orang tua memang dirasa sangat penting dalam pengawasan konten-konten yang dilihat oleh anak-anak saat bermain gadget.

“Peran orang tua paling dalam segi pengawasannya, sebab saya yakin orang tua pun dirumah pasti bermain gadget, entah itu tugas kantor atau membalas chat teman, nah itu yang akan diikuti juga oleh anak,” sebutnya

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)





Source link