PitaData.com – Peran industri teknologi finansial peer-to-peer (P2P) lending dalam suatu ekosistem digital makin terasa, seiring mulai ramainya pelaku UKM yang melek terhadap pemanfaatan teknologi.

Co-Founder & CEO PT Investree Radhika Jaya (Investree) Adrian Gunadi menjelaskan bahwa mulai maraknya perusahaan rintisan (startup) solusi bisnis UKM di Indonesia, terbilang berbarengan dengan mulai tumbuhnya platform fintech di bidang pembiayaan produktif.

Keduanya pun kompak bertujuan mengatasi hambatan-hambatan yang kerap ditemui UKM. Misalnya, belum efisien dalam perencanaan bisnis, masih menerapkan pencatatan keuangan secara manual, kemampuan yang rendah dalam memanfaatkan kemajuan teknologi, dan rendahnya pengetahuan dalam memperoleh pendanaan produktif secara digital.

Oleh sebab itu, kemitraan merupakan keniscayaan. Pelaku fintech berupaya memperluas bisnisnya lewat menjaring pelaku UKM dalam suatu ekosistem digital, sementara perusahaan teknologi selaku pengelola ekosistem pun butuh kemampuan fintech untuk mengakomodasi kebutuhan user.

“Kuncinya membangun sinergi buat ekosistem. Maka, semua pemain yang memiliki ekosistem digital, seperti e-commerce misalnya, juga ingin membangun fitur atau memberikan akses terhadap produk-produk fintech,” ujarnya dalam diskusi virtual Unleashing Exponential Growth of Indonesia Through Digitalization of SME Financing besutan Daya Qarsa dan Kadin, Rabu (27/10/2021).

Oleh karena itu, pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) ini melihat ke depan platform solusi bisnis digital dan fintech, punya kemungkinan makin mesra dan terintegrasi, bahkan saling berlomba melengkapi ekosistem digital besutannya masing-masing.

Baca Juga:  Oracle Autonomous Database Bikin Korporasi Lebih Bebas Berinovasi

Adrian mencontohkan platformnya sendiri berupaya membangun ekosistem solusi bisnis buat para user. Misalnya, dengan membuat sistem credit scoring sendiri bernama Ai.foresee, menggagas platform e-invoicing bertajuk Billtree, serta terlibat dalam platform e-procurement Mbiz dan Garuda Financial.

Adapun, ekosistem rekanan Investree yang kini telah dimasuki dan turut menjadi andalan dalam memperbesar pangsa pasar, antara lain Gramindo, SIPLah Blibli, eFishery, Andalin, dan Pengadaan.com.

“Bagi fintech, masuk ke ekosistem pun bukan semata ekspansi bisnis, tapi berperan memberikan UKM kecepatan dan proses yang seamless. Misalnya, suatu UKM harus dapat pendanaan dalam waktu dua hari saja, kalau sudah ada fintech di sana [ekosistem], mereka tak perlu masuk environment lain. Semua mengalir dalam satu platform,” tambahnya.

Dari sisi platform solusi bisnis UKM, BukaPengadaan selaku e-procurement besutan emiten teknologi PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), menjadi salah satu yang terbilang mesra dengan fintech P2P lending karena tercatat telah menggandeng 4 platform. Antara lain, ALAMI, ModalRakyat, Modalku, dan TaniFund.

Direktur BukaPengadaan Hita Supranjaya mengungkap bahwa pihaknya memahami bahwa level finansial masing-masing UMKM atau ‘pelapak’ itu berbeda, sehingga akses finansial penting agar UKM yang tergolong kecil tetap bisa menjaring potensi klien dengan transaksi besar.

“Harapannya, semua UMKM memiliki kesempatan yang sama ketika memerlukan size transaksi yang besar. Menyediakan akses pembiayaan ini salah satu cara kita membantu UMKM dari segala aspek,” ungkapnya dalam diskusi virtual, Rabu (27/10/2021).

Baca Juga:  Semester I 2021, Pendanaan Startup RI Meningkat Jadi US$ 3,8 Miliar

Lewat bergabung ke ekosistem BukaPengadaan, UKM akan menjadi lebih mudah dan punya kesempatan lebih besar untuk mendapatkan fasilitas pinjaman modal kerja atau invoice financing dengan biaya yang kompetitif.

Senada, perusahaan penyedia solusi digital dan payment gateway PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH) melihat pentingnya menggandeng penyedia lembaga pembiayaan.

Presiden Direktur Cashlez Suwandi menjelaskan bahwa tujuan menyediakan akses pendanaan ada dua. Pertama, untuk membantu merchant untuk memperlancar dan memperbesar bisnis. Kedua, memberikan pilihan pembayaran cicilan atau paylater kepada para konsumen merchant.

“Berdasarkan data internal kami, merchant yang membutuhkan akses pendanaan ini mayoritas untuk modal usaha, seperti membeli bahan baku atau biaya produksi barang. Kemudian, juga untuk ekspansi bisnis seperti pembukaan cabang baru, serta untuk menjaga kestabilan arus kas mereka,” ungkapnya kepada PitaData.com.

Untuk akses finansial para merchant, Cashlez tercatat menggandeng Bank Commonwealth, KoinWorks, dan Duha Syariah. Sementara untuk konsumen, Cashlez menjajaki kerja sama dengan menggandeng lembaga keuangan penyedia paylater non-bank, seperti VosPay, Kredivo, Atome, dan terbaru Indodana.

Terakhir, platform penyedia layanan point-of-sale (POS) dan pencatatan transaksi, Qasir besutan PT Solusi Teknologi Niaga, mengungkap pentingnya UMKM masuk ke ekosistem digital untuk mendapatkan akses pinjaman modal kerja yang murah.

Baca Juga:  Setelah Bos Bukalapak, Erick Thohir Akan Tunjuk Milenial Lain Jadi Direksi BUMN

CEO Office Qasir Ivan Hadwin Rarumangkay menjelaskan bahwa akses terhadap pembiayaan yang murah dan mudah menjadi salah satu kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya UMKM yang mulai mengembangkan usaha.

“Maka dari itu, sebagai platform pencatatan transaksi, kami bersinergi dengan para pelaku institusi keuangan untuk memberikan solusi tersebut,” ujarnya kepada PitaData.com.

Saat ini, Qasir tengah menjalankan pilot project dengan beberapa pemain fintech peer-to-peer (P2P) lending yang telah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), untuk memberikan akses pinjaman produktif kepada para pengguna Qasir.

Pilot project bersama fintech P2P lending ini masih terbatas dibuka ke 350 merchant. Qasir akan melakukan seleksi terhadap merchant yang punya kapasitas finansial baik, dan selanjutnya dibuka untuk 8.000 merchant dengan konsentrasi awal di Pulau Jawa.

Sampai dengan saat ini, sekitar 80 persen pengajuan para merchant UKM yang disetujui telah didistribusikan kepada pengguna Qasir untuk keperluan pengembangan usaha mereka.

Pada prinsipnya, Qasir membantu UKM mencatatkan transaksi usahanya dan mevalidasi transaksi tersebut melalui jasa pihak ketiga, seperti e-money, debit atau credit card, VA, dan metode bayar online lainnya.

“Historical transaction ini dapat menjadi sarana yang valid untuk mendapatkan akses pembiayaan yang murah dan mudah melalui kerja sama ke berbagai institusi keuangan, baik fintech lending maupun perbankan,” tambahnya.