Facebook dan TikTok berencana mengembangkan teknologi metaverse atau ‘dunia virtual’. Pemerintah dan perusahaan Korea Selatan memiliki rencana serupa. Bagaimana dengan Indonesia?

Insinyur Korea Selatan Shaun ingin mengembangkan proyek ‘dunia virtual’ berbasis blockchain di atas lahan yang ia beli jutaan won atau ribuan dolar Amerika Serikat (AS). Ia percaya, langkah ini bakal menghasilkan uang jangka panjang.

“Saya berencana merancang gedung yang cocok untuk menjadi tuan rumah pertunjukan K-pop dan pemutaran K-drama,” kata investor berusia 30 tahun itu kepada Reuters, dikutip Rabu (8/9). “Itu mungkin dapat menghasilkan model bisnis yang menguntungkan dalam dua hingga tiga tahun.”

Ia menyampaikan, melonjaknya harga rumah dan ketidaksetaraan pendapatan di Korea Selatan menarik generasi milenial dan Z atau Gen MZ ke ‘dunia virtual’. Mereka dapat membuat avatar digital untuk bermain gim, bepergian dengan teman, berbelanja hingga berpesta.

Ia menyebut nama layanan itu avatar Decentraland.

Pengguna dapat membeli tanah di dunia virtual dengan tujuan menampung bisnis nyata di sana. Ia mencontohkan, klub malam yang membebankan biaya akses kepada konsumen.

Namun Samsung juga berencana mengembangkan layanan metaverse atau dunia virtual. Anak usahanya, Samsung Asset Management meluncurkan Samsung Global Metaverse Fund pada akhir Juni.

Perusahaan baru menargetkan menarik 100 miliar won atau sekitar US$ 86,49 juta pada akhir tahun. Sekitar satu miliar hingga dua miliar won mengalir setiap hari.

Baca Juga:  MediaTek Rilis Dimensity 720, Chipset 5G untuk Smartphone Kelas Menengah

Wakil Presiden Samsung Asset Management Choi Byung-geun mengatakan, minat pada metaverse telah tumbuh sejak pandemi corona. “Raksasa teknologi global seperti Facebook melihat arah bisnis mereka bergeser ke arah metaverse, industri ini menghasilkan uang,” kata Choi.

Operator seluler di Korea Selatan SK Telecom juga meluncurkan ‘ifland’ metaverse pada Juli. Para penghuni dapat menjadi tuan rumah dan menghadiri pertemuan dengan avatar animasi.

“Ketika tren sosial bergeser ke non-tatap muka karena era pandemi, permintaan (untuk layanan metaverse) melonjak,” kata seorang pejabat SK Telecom kepada Reuters. “Ada ribuan kamar yang dibuat setiap hari dan puluhan ribu pengguna harian.”

SK Telecom menjadi bagian dari ‘Metaverse Alliance’ yang diluncurkan oleh pemerintah Korea Selatan pada pertengahan Mei. Program ini mencakup lebih dari 200 perusahaan dan institusi.

Seorang pejabat Kementerian Sains dan TIK mengatakan, pemerintah berharap memainkan peran utama dalam industri metaverse. Mereka pun menganggarkan 604,4 triliun won pada 2022 untuk bisnis ini.

Pemerintah Korea Selatan mengalokasikan 9,3 triliun won untuk mempercepat transformasi digital dan mendorong industri baru seperti metaverse.

Baca Juga:  Tersisa 3 Hari, Download GTA V Gratis di Epic Games Store

Facebook dan TikTok Bangun Dunia Virtual

Facebook ingin beralih menjadi ‘perusahaan metaverse’ dalam lima tahun ke depan. Raksasa teknologi asal AS ini pun meluncurkan aplikasi bernama Horizon Workrooms bulan lalu (19/8).

Berdasarkan pengujian, pengguna menggunakan headset Oculus Quest 2 untuk menggelar berbagai pertemuan virtual. Nantinya, peserta hadir dalam versi avatar.

CNBC Internasional melaporkan, peserta hadir di meja konferensi panjang berbentuk huruf U, dalam bentuk avatar. Saat uji coba, nampak avatar CEO Facebook Mark Zuckerberg.

Dalam pertemuan virtual itu, terdapat layar raksasa di dekat Zuckerberg yang menunjukkan bahwa karyawan Facebook lain menelepon dari non-dunia VR. Dari layar itu muncul Zuckerberg asli melalui webcam seolah-olah berteleportasi ke kursi di meja sebagai avatar.

Vice president Reality Labs Facebook Andrew Bosworth mengatakan, aplikasi Horizon Workrooms memberikan pengalaman baru metaverse dalam dunia kerja. “Ini salah satu langkah mendasar ke arah itu (metaverse),” kata Bosworth dikutip dari CNBC Internasional, bulan lalu (19/8).

Mark menggambarkan korporasi ini sebagai internet yang memungkinkan setiap orang seolah-olah hidup di dalamnya. “Alih-alih hanya melihat konten,” kata dia dikutip dari BBC, pada Juli (24/7).

Induk TikTok, ByteDance, berencana mengembangkan teknologi metaverse. Perusahaan asal Cina pun mengakuisisi startup virtual reality (VR) Pico Interactive.

Baca Juga:  Riset Bain: Konflik AS-Tiongkok Paksa Raksasa Teknologi Ubah Strategi

South China Morning Post (SCMP) melaporkan, kesepakatan akuisisi ByteDance terhadap Pico Interactive senilai hampir 5 miliar yuan atau US$ 772 juta (Rp 11 triliun). Melalui akuisisi ini, Pico Interactive akan berfokus pada pasar konsumen Cina, sambil mempertahankan sebagian besar staf.

Indonesia Akan Beralih ke Metaverse?

Pemerintah belum mengumumkan pernyataan terkait metaverse. Namun Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah mengimplementasikan teknologi hologram saat kampanye Pemilu 2019.

Saat itu, Jokowi menggunakan tujuh set truk berisi perangkat untuk menampilkan layar hologram. Salah satu peranti yang dipakai yakni reflektor berukuran besar.

Alhasil, sosok ‘Jokowi’ bisa hadir di seluruh desa yang menjadi cakupan kampanye hanya menggunakan truk dan sejumlah peralatan hologram. “Hologram bakal jadi salah satu aplikasi penting pada 2024. Saya sudah buktikan sendiri,” kata mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara, pada 2019 (21/8/2019).

Saat itu, Rudiantara menyampaikan bahwa penerapan teknologi hologram bisa maksimal jika didukung jaringan internet generasi kelima alias 5G. Kini, Indonesia sudah memiliki 5G.

Ada tiga operator seluler yang sudah menyediakan layanan internet 5G, yaitu Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata.

Sumber: KataData

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Mohon masukkan nama anda disini