Media sosial kerap dipakai untuk bertukar kabar dan bersilaturahmi, bersama keluarga maupun relasi. Bukan hanya itu saja, jejaring sosial kini juga dimanfaatkan oknum tak bertanggungjawab untuk menyebarkan informasi sesat maupun ujaran kebencian.

Berbagai platform media sosial, salah satunya Facebook, kerap dipakai untuk menyebarkan hoax, yang pada akhirnya berpotensi memecah belah kerukunan masyarakat. Meski demikian, raksasa teknologi itu mengaku tak ada keuntungan dari konten negatif tersebut.

Pendiri dan CEO Facebook, Mark Zuckerberg mengakui hal tersebut. Dia juga membela perusahaannya mengenai kebijakan soal ujaran kebencian dan informasi salah. Pria 36 tahun itu juga menegaskan jika Facebook tidak mau konten kebencian dan informasi salah ada di platformnya.

“Kami tidak mendapatkan keuntungan dari informasi salah dan kebencian,” kata dia dikutip laman Digital Trends, Jumat 31 Juli 2020.

Dalam rapat dengar pendapat anti monopoli di House Judiciary Commitee Amerika Serikat pada Rabu lalu, Zuckerberg mendapat banyak kecaman mengenai informasi dan teori konspirasi mengenai Covid-19 di Facebook. Informasi-informasi itu dikatakan sangat keliru dan menyebar secara luas.

Politisi dan anggota dewan, David Cicilline sampai menuding Zuckerberg mengambil keuntungan dari konten yang disebut mematikan itu.

Zuckerberg melakukan pembelaan saat rapat laporan pendapatan keesokan harinya. Dia menyatakan jika 90% konten berbahaya dan kebencian telah dihapus Facebook menggunakan artificial intelligence atau kecerdasan buatan milik perusahaan sebelum ada pengguna yang melaporkannya.

Zuckerberg serta Chief Operating Officer, Sheryl Sandberg juga membicarakan soal boikot dari pengiklan yang terjadi beberapa waktu. Sebagai informasi, beberapa brand menarik iklan dari media sosial karena banyaknya konten ujaran kebencian di sana.

Saat itu juga ada kampanye Stop Hate For Profit yang berasal dari beberapa organisasi termasuk Anti-Defamation League yang menghentikan iklan dari perusahaan-perusahaan di Facebook, karena adanya ancaman kekerasan, misinformasi, dan ujaran kebencian. Boikot iklan ini dilakukan selama bulan Juli oleh brand besar seperti Unilever, North Face, dan Honda.

Baca Juga:  Mengungkap Wajah Indonesia pada Tahun 2045, Seperti Apa?

Sandberg menegaskan jika Facebook melawan kebencian. Dia juga mengatakan Facebook tidak mendapat keuntungan apapun dari konten-konten tersebut.

“Sangat jelas kami punya banyak pekerjaan. Tapi tidak karena tekanan dari pengiklan namun karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan,” ungkap Sandberg.

Source link