Masa libur semester telah berakhir. Siswa akan memasuki tahun ajaran baru mulai Senin (13/7). Namun, siswa masih harus menjalankan metode belajar dari rumah. Imbas pandemi beberapa bulan terakhir, belajar daring menjadi pilihan.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Balikpapan Eddy Effendy mengatakan, kegiatan pembelajaran tetap dilakukan seperti biasa. Perbedaannya hanya tidak bisa tatap muka, komunikasi antara guru dan siswa secara online.

“Kaitannya dengan kondisi Covid-19, belum bisa belajar di sekolah. Jadi, tetap sepenuhnya daring,” ucapnya. Kepala SMA 1 Balikpapan ini menjelaskan, pihaknya memilih menggunakan media pembelajaran melalui website sekolah atau video conference.

Kemudian menghindari pembelajaran via WhatsApp. Antisipasi agar guru tidak hanya memberi tugas atau perintah mengerjakan soal. “Kalau begitu tidak terjadi transfer knowledge. Ke depan kita sarankan ikut menggunakan video conference,” ungkapnya.

Menurut dia, cara ini bisa membuat suasana belajar lebih baik, sehingga siswa seolah-olah tetap merasa berhadapan langsung dengan guru. Walau sebenarnya hanya lewat sambungan media. Selama penerapan belajar melalui video conference, Eddy bercerita, siswa merasa lebih senang dan nyaman dalam belajar.

“Kalau ada materi yang mereka kurang paham, bisa langsung tanya. Guru juga merasa enak karena bisa komunikasi dua arah,” bebernya.

Dia mengakui pada semester lalu, belajar daring tidak sepenuhnya berjalan lancar dan maksimal 100 persen. Sebab, kondisinya pilihan metode ini dilakukan mendadak tanpa persiapan, sehingga tinggal manajemen sekolah masing-masing bisa menerapkan semaksimal mungkin.

“Ada yang tidak punya gadget, ada yang tidak punya kuota. Terutama bagi mereka yang tidak mampu,” sebutnya. Mengatasi masalah tersebut, pihaknya memberikan bantuan dalam bentuk kuota hingga pinjaman gadget kepada siswa kurang mampu.

Sekolah bekerja sama dengan provider untuk menyediakan kuota. Dengan begitu, bantuan yang diberikan langsung dalam bentuk kuota bukan uang tunai. Nanti pembayarannya menggunakan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Seperti yang sudah diatur oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Pemerintah pusat juga sudah mengizinkan kalau dana BOS bisa digunakan beli apa saja yang dibutuhkan untuk mendukung pembelajaran daring,” tuturnya. Soal kebijakan berbeda-beda, tinggal bagaimana pihak sekolah menindaklanjuti melihat kebutuhan siswa di sekolah tersebut.

“Kalau siswa yang tidak punya gadget, SMA 1 meminjamkan karena ada alat yang tersedia,” imbuhnya. Jadi ini tergantung kesanggupan dan ketersediaan fasilitas setiap sekolah. Sebagai informasi, dalam PPDB tahun ini, SMA 1 Balikpapan telah menerima 432 siswa.

Source link