Jakarta, PitaData.com – Chief Executive Officer (CEO) Indodax Oscar Darmawan menyatakan harga Bitcoin berpotensi kembali tembus US$20.000 per koin atau setara Rp 300 juta (asumsi Rp 15.000/US$). Penyebabnya, halving day dan krisis ekonomi yang sedang mengintai dunia.

Halving day sendiri sudah terjadi pada 12 Mei 2020, di mana supply printing Bitcoin berkurang separuh dari 12,5 BTC per blok menjadi 6,25 BTC per blok di seluruh dunia. Setiap blok kurang lebih terjadi setiap 10 menit. Momen ini hanya terjadi dalam 4 tahun sekali.

“Berkurangnya peredaran Bitcoin di bagian printing / supply baru tentunya membuat peredaran  di market berkurang. Di sisi lain, permintaan atau demand terus meningkat. Inilah mengapa harga bitcoin cenderung meningkat setelah halving day,” ujar Oscar Darmawan kepada PitaData.com, Senin (18/5/2020).
Ia menambahkan selama krisis ekonomi, Bitcoin terbukti menjadi portofolio yang cukup solid dibandingkan komoditas apapun. Ia mengklaim kinerja Bitcoin tetap kinclong sejak awal 2010 ketika krisis Cyprus, Venezuela, perang dagang China-US bahkan saat ketegangan semenanjung Korea dan wabah virus corona Covid-19.Foto: Oscar Darmawan, CEO Indodax (ist)
Oscar Darmawan, CEO Indodax (is)

Baca Juga:  Pemanfaatan Teknologi Blockchain di Indonesia Masih Potensial - Medcom ID


”Bitcoin selalu cenderung menguat saat krisis karena ada lonjakan dari masyarakat untuk membeli safe haven aset class yang menimbulkan demand akan Bitcoin yang pada akhirnya membuat timbulnya lonjakan harga akan Bitcoin,” terangnya.

Di Era wabah corona ini, lanjut Oscar Darmawan, investor sudah cuap Rp 42 juta. Pada awal Januari Bitcoin pada harga Rp 99 juta dan hingga ini harga Bitcoin sudah ada di level Rp 141 juta.

“Kemungkinan [Bitcoin S$20.000 per koin] sebenarnya sangat mungkin terjadi. karena selain halving yang berpotensi meningkatkan harga Bitcoin, juga karena faktor resesi ekonomi global yang terjadi saat ini,” jelasnya.

(roy/roy)

Source link