Harga mayoritas mata uang kripto (cryptocurrency) berkapitalisasi pasar terbesar terpantau melemah pada perdagangan Senin (11/10/2021) pagi waktu Indonesia, setelah China kembali bertindak keras terhadap industri kripto.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pukul 09:05 WIB, dari kedelapan kripto berkapitalisasi pasar terbesar (big cap) non-stablecoin, hanya bitcoin dan ripple yang masih diperdagangkan di zona hijau pada pagi hari ini.

Bitcoin melesat 2,02% ke level harga US$ 55.436,82/koin atau setara dengan Rp 787.202.844/koin (asumsi kurs hari ini Rp 14.200/US$) dan ripple menguat 0,26% ke level US$ 1,15/koin.

Sedangkan sisanya diperdagangkan di zona merah pada pagi hari ini. Ethereum terkoreksi 1,23% ke level harga US$ 3.459,93/koin atau Rp 49.131.006/koin, cardano merosot 1,44% ke level US$ 2,21/koin (Rp 31.382/koin).

Berikutnya binance coin melemah 0,74% ke US$ 409,91/koin (Rp 5.820.722/koin), solana ambles 2,24% ke US$ 150,24/koin (Rp 2.133.408/koin), polkadot ambruk 4,58% ke US$ 34,88/koin (Rp 495.296/koin), dan dogecoin ambrol 4,3% ke US$ 0,2325/koin (Rp 3.302/koin).

Baca Juga:  Standard Chartered Prediksi Harga Bitcoin Bisa Sentuh US$ 100.000 Tahun Depan

Dalam sepekan terakhir, mayoritas kripto big cap masih terpantau melesat. Hanya beberapa kripto seperti cardano, binance coin, dan solana yang mulai kembali melemah sepekan terakhir.

Kripto paling jumbo, bitcoin memimpin penguatan kripto big cap sepekan terakhir, yakni melonjak hingga 16,04%. Sedangkan penguatan paling minor terjadi di kripto ethereum yang melesat 2,67%.

Pada pagi hari ini, mayoritas kripto kembali melemah setelah China memasukan penambangan kripto dalam daftar (draft) industri yang dibatasi atau dilarang untuk investasi. Draft tersebut merinci sektor dan industri yang terlarang bagi investor China dan asing.

Melansir CNBC International pada Sabtu (9/10/2021) lalu, draft ini dirilis oleh Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional pada Jumat (9/10/2021). Dalam draft tesebut, terdapat 117 daftar investasi dibatasi atau dilarang. Angka ini turun dari jumlah pada 2020 yang sebanyak 123 sektor.

Baca Juga:  Kabar Baik Pecinta Kripto, Negara ini Izinkan Bitcoin Cs

Pemerintah China memang sudah melarang perdagangan dan penambangan kripto tahun ini. Bank sentral China juga berkomitmen untuk membersihkan aktivitas cryptocurrency ilegal bulan lalu.

Perencana negara mengatakan pihaknya menghentikan investasi modal non-publik ke dalam berbagai kegiatan penerbitan, termasuk siaran langsung, pengumpulan berita, pengeditan dan entitas penyiaran dan pengoperasian berita.

Disebutkan bahwa modal non-publik tidak dapat terlibat dalam pengenalan berita yang dirilis oleh entitas atau KTT luar negeri dan kegiatan pemilihan penghargaan di bidang berita dan opini publik.

Meskipun begitu, bitcoin pada pagi hari ini masih terpantau melesat lebih dari 2%, didorong oleh sikap optimisme investor di bitcoin.

Namun, di tengah larangan China terhadap industri kripto yang semakin keras, pemerintah Amerika Serikat (AS) pada pekan lalu menjelaskan bahwa pihaknya tidak punya niat untuk melarang cryptocurrency di AS.

Baca Juga:  Bos JPMorgan Nilai Bitcoin Tidak Berharga

Chairman Securities and Exchange Commission (SEC), Gary Gensler dihadapan sidang DPR ditanya oleh beberapa media AS soal apakah pihaknya akan melarang uang kripto seperti yang terjadi di China.

“Pendekatan kami sangat berbeda,” jawab Gensler, dikutip Bloomberg, Sabtu (9/10/2021) lalu.

Dia mengakui jika kripto memiliki banyak masalah, namun tak akan mengikuti jejak pemerintah China.

Gensler mengatakan fokus pemerintah AS saat ini adalah untuk memastikan industri paham akan aturan yang berlaku. Ini dimulai dari perlindungan investor dan konsumen, anti pencucian uang serta undang-undang pajak.

Apabila akan ada larangan, maka dia memastikan harus melalui pengesahan oleh Kongres.

Pernyataan ini juga mewakili ucapan Ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), Jerome Powel saat sidang kongres 20 September 2021. Dia menegaskan tak punya niat untuk melarang cryptocurrency di AS.