Harga bitcoin terus meningkat hingga menyentuh US$ 10.000 atau Rp 150 juta per koin di tengah pandemi corona. CEO Layer1, startup penambang mata uang digital atau cryptocurrency, Alex Leigl menilai bahwa bitcoin memasuki masa seperti minyak pada 1890-an.

“Kami berada tepat di posisi minyak saat 1890,” kata Alex Leigl saat mengikuti diskusi panel, dikutip dari Forbes, kemarin (18/5).

Analogi itu menunjukkan bahwa bitcoin, dan mata uang digital secara keseluruhan, merupakan hal baru dan berani. Alex juga memperkirakan banyaknya inovasi terkait cryptocurrency dalam beberapa tahun ke depan.

Pada abad ke-19, manusia menyadari pentingnya penggunaan minyak. Sebagaimana Hukum Metcalfe, semakin banyak orang menggunakan sesuatu maka semakin tinggi nilainya.

(Baca: Sempat Sentuh Rp 150 Juta per Koin, Harga Bitcoin Diprediksi Naik Lagi)

Berdasarkan data Blockchain.com, kurang dari 50 juta dompet cryptocurrency unik telah dibuat per Mei. Jumlahnya meningkat 10 juta dibandingkan setahun sebelumnya.

Baca Juga:  Rayakan Listing ONIT di Pasar Indonesia, Upbit Bagikan Airdrop 10 Bitcoin

Pengusaha asal Amerika Serikat (AS) sekaligus manajer hedge fund Paul Tudor Jones juga mengalihkan 2 % asetnya ke bitcoin. Kepada kliennya, Jones mengatakan bahwa bitcoin mengingatkannya terhadap emas pada akhir 1970-an.

“Bitcoin mengingatkan saya pada emas ketika saya pertama kali masuk ke bisnis ini pada 1976. Strategi terbaik memaksimalkan laba yakni dengan memiliki kuda tercepat. Jika saya dipaksa untuk memperkirakan, taruhan saya adalah Bitcoin,” kata dia.

(Baca: Harga Bitcoin Diprediksi Melonjak 10 Kali Lipat Usai ‘Halving’)

Namun, pria berusia 65 tahun itu tetap penggemar emas. Ia memperkirakan harga logam mulia ini bisa melonjak hingga ke level US$ 2.400 atau bakan US$ 6.700 per ons. “Jika kita kembali ke 1980 ekstrem,” ujarnya.

Di tengah pandemi virus corona ini, harga bitcoin juga terus menguat. Analis memperkirakan harganya bisa lebih dari US$ 10 ribu karena faktor pengurangan pasokan (halving).

“Apakah US$ 20.000 merupakan basis bitcoin, mungkin kami melihat US$ 100.000,” kata pendiri Gemini Cameron dan Tyler Winklevoss.

Baca Juga:  Jangan kaget, Elon Musk beberkan jumlah bitcoin yang dimilikinya

Harga bitcoin sudah tiga kali menyentuh level di atas US$ 10.000 per koin sejak awal Mei. (Baca: Harga Bitcoin Tembus Rp 150 Juta, Investor Diminta Hati-hati)

Seiring dengan menguatnya harga, JPMorgan Chase bahkan mengubah sikapnya terhadap bitcoin. Perusahaan akan mulai menawarkan rekening bank ke pialang penukaran Coinbase dan Gemini. Wall Street Journal melaporkan bahwa bank menyelesaikan kemitraan pada April lalu.

Perusahaan akan menawarkan layanan setoran, penarikan, dan transfer ke pelanggan kedua bursa cryptocurrency. Langkah ini diambil kurang dari tiga tahun setelah CEO Jamie Dimon menyebut bitcoin sebagai penipuan.

Penguatan terjadi karena adanya halving, yang akan mengurangi reward atau imbalan 50% kepada penambang bitcoin. Dimulai dari 50 bitcoin pada 2012, imbalan akan berkurang hingga tahun ini hanya menjadi 6,25 bitcoin.

Mengacu pada halving 2012 dan 2016, kenaikan harga bitcoin dapat mencapai 30-35 kali lipat setelah hari pertama halving. “Kemudian sekarang halving ketiga secara analisa banyak yang bilang naik, tapi tidak banyak, mungkin 10 kali lipat,” ujar Business Development Specialist of Indodax Fransiskus Bupu Awa Du’a dalam Webinar Blockchain & cryptocurrency, beberapa waktu lalu (8/5).

Baca Juga:  Ramai Bank Sentral Berusaha Matikan Bitcoin

(Baca: Apa yang Akan Terjadi Pada Halving Bitcoin? )

Founder of Bullwhales Douglas Tan mengatakan, halving membuat bitcoin dicetak semakin sedikit dari waktu ke waktu. Fenomena itu juga akan membawa inflasi  pada bitcoin. Namun, inflasi bitcoin dapat terukur dengan baik karena kepastian penurunan imbalan blok. 

Berdasarkan grafik volume di CME, belum ada indikasi berkurangnya minat investor. Akan tetapi, sebagian besar perdagangan merupakan kontrak call options jangka pendek.

Karena itu, harga bitcoin dalam jangka pendek diperkirakan berada pada tren penguatan. (Baca: Harga Bitcoin Diprediksi Jatuh Hingga US$ 3.200 Imbas Pandemi Corona)



Source link

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Mohon masukkan nama anda disini