PitaData.com –┬áHONG KONG. Raksasa internet China, Baidu Inc, menerbitkan obligasi berkelanjutan berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS). Penerbitan surat utang ini dilakukan saat pemerintah China sedang meningkatkan pengawasannya terhadap sejumlah perusahaan teknologi.

Rabu (18/8), Baidu menerbitkan surat utang berkelanjutan berdenominasi dolar AS tanpa jaminan dalam dua seri yakni seri pertama dengan tenor 5,5 tahun dan seri kedua dengan tenor 10 tahun. Namun, hingga saat ini, perusahaan pencarian tersebut tidak mengatakan berapa banyak dana yang dihimpun dari aksi korporasi ini.

Berdasarkan term sheet yang dilihat Reuters, Baidu telah mengindikasikan kepada investor bahwa tranche 5,5 tahun akan dihargai menggunakan basis dari US Treasury dengan tenor serupa ditambah 115 basis poin. Sedangkan untuk obligasi tenor 10 tahun akan menggunakan acuan pada harga US Treasury ditambah 150 basis poin.

Baca Juga:  Bukalapak gaet fintech P2P Indodana guna mendukung inklusi keuangan

Dana hasil obligasi ini akan digunakan Baidu untuk pembayaran utang perusahaan serta mendanai proyek-proyek terkait lingkungan, sosial dan tata kelola perusahaan atawa environmental, social and corporate governance (ESG) milik perusahaan.

Perusahaan menunjuk Bank of America, Goldman Sachs dan JP Morgan untuk memimpin transaksi.

Menurut data Dealogic, sepanjang tahun 2021, perusahaan-perusahaan China telah mengumpulkan sekitar US$ 121,2 miliar dalam pendanaan utang dengan denominasi dolar AS. Jumlah ini sedikit di bawah realisasi pada periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$ 126,6 miliar.

“Sentimen investor saat ini tidak begitu bagus di sektor teknologi China karena tindakan keras dari pihak regulator, tetapi inisiatif Baidu di ruang AI (kecerdasan buatan) harus mendorong fase pertumbuhan berikutnya, dan pasar tampaknya belum memberikan perhatian yang memadai pada sektor yang sedang dikembangkan Baidu tersebut,” kata analis LightStream Research Shifara Samsudeen.

Baca Juga:  Transaksi e-Commerce moncer, fintech berlomba sebagai penyedia pembayaran

Dalam prospektusnya untuk kesepakatan yang diajukan ke Komisi Sekuritas dan Pertukaran AS (SEC), Baidu mengakui dampak tindakan keras peraturan China terhadap sektor teknologi belum sepenuhnya diketahui.

Pada bulan Juli, China mengatakan perusahaan dengan lebih dari satu juta pelanggan harus ditinjau oleh Cyberspace Administration of China (CAC) sebelum melakukan listing di luar negeri.

“Draf tindakan masih belum jelas apakah persyaratan yang relevan akan berlaku untuk perusahaan yang telah terdaftar di Amerika Serikat dan berniat untuk melakukan penawaran ekuitas atau utang lebih lanjut, seperti kami. Kami tidak dapat memprediksi dampak dari rancangan tindakan tersebut,” Baidu dikatakan dalam prospektus.

Pada hari Selasa, regulator China menerbitkan aturan baru yang ditujukan untuk sektor teknologi China untuk mengatasi perilaku anti-persaingan dan penanganan data perusahaan.

Baca Juga:  Awal halving day, harga bitcoin masih bergerak wajar

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar anda
Mohon masukkan nama anda disini