Bagaimana teknologi chipset terbaru milik AMD, Intel, dan Arm dapat mempengaruhi pengguna di masa depan?

Computex 2019 masih banyak menyisakan cerita. Banyak hal baru dan mengejutkan yang hadir di ajang tahunan tersebut. Salah satunya adalah hadirnya babak baru pertarungan antar pembuat chipset besar, seperti AMD, Intel, dan Arm.

Kita mulai dengan membahas apa saja yang baru, yang ditawarkan oleh AMD di Computex 2019. Pada acara keynote di hari pertama pembukaan Computex, mereka mengumumkan kehadiran Ryzen seri 3000 yang menggunakan basis Zen 2.

Prosesor ini memiliki arsitektur fabrikasi 7nm. Ya, untuk kali pertama dalam belasan tahun, AMD berhasil mengungguli Intel dalam hal inovasi fabrikasi dari Intel. Banyak orang yang penasaran dengan performa yang akan dihadirkan oleh prosesor tersebut.

CEO AMD, Lisa Su mengatakan, prosesor Ryzen generasi ketiga ini akan memiliki peningkatan performa keseluruhan sebesar 15 persen. Dia juga menjanjikan peningkatan cache hingga dua kali lipat dan proses floating point dua kali lebih cepat dibandingkan dengan Ryzen generasi sebelumnya.

Satu hal lagi yang membuat prosesor generasi terbaru ini sangat menarik perhatian adalah munculnya chipset motherboard baru, yakni X570. Di motherboard ini, AMD menggunakan standar PCIe baru, yakni PCIe 4.0. Intel kembali dikalahkan oleh AMD di sisi pengembangan motherboard.

Jika dibandingkan dengan PCIe generasi sebelumnya, PCIe 4.0 memiliki kemampuan dua kali lipat lebih besar. PCIe ini akan memiliki kecepatan transfer sebesar 16.0 GT/s, atau sekitar 64GB/s di konfigurasi jalur bandwidth x16.

Di sisi lain, Intel dalam ajang yang sama mengumumkan kemajuan teknologi mereka di bidang teknologi fabrikasi chipset. Mereka secara resmi mengumumkan prosesor Intel generasi ke-10 yang menggunakan teknologi fabrikasi 10nm. Ya, Intel ketinggalan satu langkah dari AMD.

Bumbu baru yang dihadirkan oleh Intel dalam prosesor ini adalah hadirnya mesin AI yang hadir di semua prosesor Intel generasi ke-10. Belum lagi, prosesor tersebut juga akan memiliki kemampuan Deep Learning (DL) Boost di prosesor mereka.

Hal ini menjadi keunggulan sendiri bagi Intel terhadap AMD. Para pengguna yang ingin memiliki prosesor yang dapat memproses AI dan membantu mengembangkan kemampuan Deep Learning pasti akan lebih memilih prosesor Intel ketimbang AMD. Sayang, masih belum diketahui kemampuan pasti dari prosesor tersebut dan bagaimana akan dapat membantu para penggunanya.

Satu hal lagi yang menjadi sorotan Intel di ajang Computex 2019 adalah Project Athena. Melalui proyek ini, Intel ingin menghidupkan ekosistem laptop super tipis. Ada enam hal penting dari Project Athena yang difokuskan oleh Intel, antara lain focus, always ready, dan adaptive.

Oh iya, laptop yang akan mendukung proyek ini memiliki spesifikasi khusus. Pertama adalah menggunakan prosesor Intel generasi 10 dengan minimal konfigurasi Core i5 dan Core i7, dengan RAM minimal 8GB dual channel dan SSD 256GB serta Intel Optane H10.

Beralih ke ARM, di ajang Computex 2019, mereka tidak mengumumkan hal yang terlalu mengejutkan. Namun, mereka memiliki visi khusus terhadap perkembangan peralatan laptop di masa depan.

Bertolak ke produsen chipset untuk smartphone, ARM belakangan ini semakin serius menggarap prosesor yang dapat menjalankan sistem operasi laptop normal, karena selama ini mereka harus memiliki sistem operasi Windows khusus ARM.

Sebagai contoh, mereka baru saja mengumumkan chipset Cortex-A77 CPU dan Mali-G77 GPU beberapa waktu lalu. Kedua chipset ini memiliki kinerja yang semakin mendekati prosesor laptop namun memiliki penggunaan daya yang sangat kecil.

Mereka juga sudah mulai meninggalkan arsitektur X86 dan beralih ke X64. Salah satu contoh nyata prosesor berbasis ARM yang bisa bersaing dengan prosesor laptop adalah Qualcomm Snapdragon 8xc, yang akan hadir tahun depan.

Lantas, pertanyaan besarnya adalah bagaimana semua teknologi ini akan mempengaruhi pengguna di masa depan?

Titik berat dari teknologi yang hadir di tahun ini adalah peningkatan efisiensi dan peningkatan performa. Chipset apapun, baik CPU maupun GPU yang memiliki teknologi fabrikasi terbaru, seperti AMD dan ARM dengan fabrikasi 7nm dan Intel dengan fabrikasi 10nm menghadirkan dua hal tersebut.

Penjelasan simpel dari teknologi ini adalah semakin kecil luas penampang dari sebuah chipset, semakin kecil juga resisten yang dimiliki oleh chipset. Jadi, hanya dibutuhkan sedikit tenaga saja untuk memindahkan informasi dari resistor yang ada di antara chipset yang ditumpuk. Selain itu, semakin kecil resisten yang ada, semakin cepat juga informasi yang dapat dilempar dari satu titik ke titik lain.

Dengan hal ini, pengguna akan mendapatkan sebuah perangkat laptop yang irit daya. Bahkan, Intel mengatakan dengan Project Athena, mereka ingin memiliki sebuah laptop super tipis yang memiliki daya tahan baterai hingga 16 jam.

Connected device juga akan menjadi satu hal yang dapat dinikmati oleh pengguna di masa depan. Baik AMD, Intel, dan ARM saat ini sudah mendukung teknologi WiFi 6, yang akan menjadi masa depan jaringan nirkabel. Untuk penjelasan lebih lengkap mengenai WiFi 6, Anda bisa melihatnya di sini.

Kecepatan transfer data melalui kabel data juga akan semakin cepat. Prosesor-prosesor dari ketiga vendor tersebut akan mendukung Thunderbolt 3. Ya, untuk sementara ini Thunderbolt 3 merupakan protokol pengiriman data kabel tercepat.

Khusus untuk perangkat AMD, dengan menggunakan motherboard dengan chipset X570, pengguna akan merasakan kecepatan bandwidth lebih besar saat menggunakan kartu ekspansi tambahan yang berjalan di PCIe 4.0.

Para gamer contohnya, akan mendapatkan GPU dengan bandwidth dua kali lebih besar jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Para konten kreator juga akan mendapatkan performa SSD dengan bandwith yang lebih besar untuk memproses data dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Memang, untuk sementarai ini AMD baru memberikan dukungan tersebut di lini Open Platform saja. Namun, tidak menutup kemungkinan dalam waktu dekat ini, mereka akan membawa teknologi tersebut ke ranah laptop.

Sedangkan di sisi Intel, pengguna akan mendapatkan laptop yang memiliki teknologi AI. Sama seperti di smartphone, teknologi AI ini juga diharapkan akan dapat mempelajari pola pengguna dalam menggunakan laptop untuk menghadirkan performa yang lebih baik.

Terakhir, di sisi ARM, mereka akan memiliki sebuah prosesor yang sangat irit daya dikarenakan memiliki basis chipset smartphone, namun dapat bersaing dengan kemampuan prosesor laptop. Hal ini menjadikan pilihan baru bagi para calon pengguna teknologi di masa depan.

Namun, untuk mendapatkan semua hal ini, pengembangan ekosistem pendukung juga harus mengikuti kecepatan perkembangan prosesor. Jika tidak, semua potensi yang saat ini sudah dikerahkan oleh vendor tidak dapat dirasakan maksimal oleh para pengguna.





Source link