Perusahaan Fintech telah secara aktif mengakuisisi saham di bank-bank Indonesia. Baru-baru ini, Funding Societies dan Carro telah mengumumkan investasi mereka di Bank Index. Perilaku ini masuk akal bagi perusahaan fintech karena memperluas ekosistem digital mereka. Bagi bank dan pemegang saham yang ada, secara bersamaan menguntungkan karena perusahaan fintech membawa teknologi bersama dengan tambahan modal.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyikapi tren ini dengan menerbitkan peraturan tentang bank umum, yang mencakup ketentuan bank digital. Namun, tidak seperti Singapura atau Malaysia, Indonesia tidak memiliki lisensi khusus untuk bank digital. Lisensi tersebut berada di bawah rezim perizinan perbankan komersial, karena OJK bisa dibilang menganggap perbankan digital sebagai model bisnis yang tidak memerlukan lisensi khusus.

Dalam perjalanannya, pendekatan ini tampaknya telah menghasilkan banyak bank yang memproklamirkan diri sebagai bank digital. Dalam peraturan tersebut, jelas bahwa bank digital adalah bank umum yang beroperasi melalui saluran elektronik, yang memiliki setidaknya satu kantor fisik. Namun, karena tidak ada lisensi khusus yang diberikan untuk perbankan digital, tampaknya sebutan “bank digital” telah dimanfaatkan sebagai gimmick untuk tujuan pemasaran.