Lembaga keamanan siber Kaspersky Lab menunjukan hasil riset penyebaran malware yang menyerang aktivitas keuangan dan transaksi digital selama semester pertama 2020, salah satunya di Indonesia. Seperti apa hasilnya?

Dijelaskan oleh Yeo Siang Tiong selaku General Manager Kaspersky untuk Asia Tenggara, ada perbandingan antara serangan malware perbankan online yang menimpa beberapa negara Asia Tenggara di tahun 2019 dan 2020.

Indonesia pada periode Januari sampai Mei 2019 berada di peringkat 50 dunia dengan jumlah penularan malware perangkat Android di angka 0,06 persen.

Sedangkan pada periode yang sama di tahun 2020, angka pengguna yang terjangkit malware di perangkat Android turun menjadi 0,05 persen, namun peringkat Indonesia malah naik menjadi urutan 40 dunia.

Baca Juga:  Aplikasi Android Sudah Bisa Dipakai di Windows 11

“Sementara jumlah pengguna yang hampir terinfeksi oleh malware Android banking telah menurun secara global, namun kita dapat melihat bahwa negara-negara Asia Tenggara dengan cepat menjadi target panas bagi penjahat siber yang melakukan serangan jenis ini. Hal ini terutama didorong oleh kenyataan bahwa saat ini ada lonjakan besar dalam pembayaran digital dan penggunaan e-wallet di Indonesia dan di seluruh negara di Asia Tenggara,” ungkap Tiong kepada Uzone.id, Rabu (22/7).

Lantas, apakah ini artinya Android menjadi sasaran empuk aksi kejahatan siber di dunia keuangan digital ketimbang iOS?

Menurut Tiong, di masa sekarang sebenarnya tidak ada yang benar-benar lebih aman, karena semua platform atau sistem operasi menjadi target kejahatan siber, khususnya kelompok peretas Lazarus yang begitu terorganisir dan dikenal mampu membobol bank internasional di kawasan Asia dengan jumlah jutaan dollar.

Baca Juga:  Bug Android 11 Bikin Susah Main Game

“Ketika berbicara tentang Android dan iOS, diketahui bahwa Android adalah OS open-source sementara iOS lebih merupakan sistem end-to-end yang meningkatkan rasa keamanannya. Namun, Lazarus saat ini menargetkan kedua platform dan lebih banyak lagi. Ini berarti terlepas dari sistem operasi yang berjalan pada perangkat kita, penting untuk menjaga kewaspadaan kita dari penjahat siber tersebut,” lanjut Tiong.

Diketahui, Kaspersky pernah mencatat ada sampel malware yang berkaitan dengan aktivitas kelompok Lazarus yang begitu berbahaya, khususnya di sektor keuangan. Hal ini tak terkecuali Indonesia.

Kejahatan Lazarus antara lain muncul di lembaga keuangan, pengembangan perangkat lunak kasino untuk perusahaan investasi, dan bisnis mata uang kripto di beberapa negara seperti Indonesia sendiri, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Baca Juga:  Oracle Tuntut Google Rp 120 Triliun

Source link