WARTAKOTALIVE.COM, PENJARINGAN – Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mengakibatkan nelayan yang mempunyai anak usia sekolah di Blok Empang Muara Angke, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara mengeluhkan biaya kuota internet.

Seorang warga, Raminah (50) mengatakan anaknya yang berhasil masuk SMP Negeri 261 Jakarta Utara harus mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) secara daring.

Kondisi itu, membuatnya harus memutar otak agar anaknya bisa mengikuti MPLS secara daring. Ia pun memutuskan untuk membeli handphone setelah mendapat bantuan dari pemerintah.

“Uangnya dibeliin handphone yang murah-murah, yang penting kan bisa ngikutin pelajaran,” kata Raminah, Selasa (14/7).

Warga RT 004/RW 022 Kelurahan Pluit itu harus mengeluarkan uang untuk membeli kuota internet agar bisa ikut PJJ secara daring. Menurutnya, kuota internet menelan biaya yang banyak.

“Kalau isi paket Rp 60 ribu, nggak sampai dua minggu udah habis. Sebulan tuh bisa Rp 200 ribu,” tutur Raminah.

Pasalnya ibu dari Muhammad Muchlis itu bekerja sebagai pengupas kerang. Suami pun kini sudah tidak lagi bekerja sebagai nelayan seiring kondisi yang sudah tidak mendukung pekerjaan tersebut.

“Pendapatannya nggak tentu. Kalau saya satu blong dihargai Rp 30 ribu. Kalau suami cuman ngumpulin kayu bayar, dapetnya bisa Rp 50-70 ribu pas ramai,” katanya.

Pengakuan senada juga disampaikan warga RT 004/RW 022 Kelurahan Pluit lainnya, Ade (25) dimana adiknya yang menginjak kelas IX SMP Negeri 261, Darwini juga harus belajar secara dsring.

“Kalau adik saya pakai handphone ibu, dia sih nggak punya handphone. Cuman buat beli kuota internetnya yang nggak murah, bisa lebih dari Rp 200 sebulan,” ujarnya.

Ayahnya bekerja sebagai nelayan kerang dan ibu yang tidak bekerja membuat biaya kuota internet sebesar itu dirasa cukup memberatkan. Bantuan berupa subsidi kuota internet pun sejauh ini tidak ada.

“Mau pakai KJP (Kartu Jakarta Pintar) nggak mungkin, nanti ditanyain seragam udah jelek kok nggak dibeli yang baru atau sepatu udah lusuh kok nggak diganti,” katanya.

Ade pun berharap agar PJJ segera berakhir dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Tatap Muka bisa segera kembali digelar. Apalagi belajar secara daring dirasakan kurang efektif bagi adiknya.

“Mending belajar biasa lah, ketahuan gitu belajar. Kalau sekarang kan musti kita awasin biar bener-bener belajar,” ujarnya. (jhs)

Source link