Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Alibaba memperkirakan ada lebih banyak perusahaan Indonesia yang berinvestasi besar-besaran terkait kecerdasan buatan (artificial inteligence/AI). Sebab, teknologi ini membantu untuk menggaet lebih banyak konsumen.

Perusahaan asal Tiongkok itu memprediksi, pembangunan pusat riset dan pengembangan (Research and Development/R&D) terkait AI semakin banyak ke depan. “Saya melihat beberapa tren yang cukup konsisten di Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang mungkin mengubah beberapa pola umum,” kata Vice President of Alibaba Group, Senior Fellow of the Computing Platform BU Alibaba Cloud Intelligence USA Yangqing Jia saat konferensi pers, Senin (13/7).

“Saya pikir, kita akan melihat investasi raksasa, serta R&D terkait AI,” ujar Jia.

Baca Juga:  Amazon Web Service (AWS) buka pusat data di Jakarta akhir 2021

Dengan menggunakan AI, perusahaan bisa menganalisis minat dan kebutuhan konsumen. Bahkan, pelayanan yang diberikan kepada setiap pelanggan bisa berbeda atau ada personalisasi.

Berdasarkan riset Deloitte pada 2015, konsumen bersedia membayar 10-50% lebih banyak untuk produk yang dipersonalisasi. Ada tujuh jenis kategori produk yang diharapkan dipersonalisasi yakni perlengkapan rumah tangga, busana, otomotif, mainan dan gim, kosmetik, makanan dan minuman, dan kesehatan.

Riset Technavio pada 2017 juga menunjukkan, nilai pasar dari layanan yang dipersonalisasi secara global akan mencapai US$ 31 miliar atau sekitar Rp 437,1 triliun pada 2021.

Oleh karena itu, Jia memperkirakan ada lebih banyak perusahaan Indonesia yang mengadopsi AI. Bukan hanya untuk keperluan bisnis, tetapi juga pendidikan, rumah sakit hingga studi medis.

Baca Juga:  Penjualan Huwaei & Apple Melonjak di Pasar Tiongkok Saat Corona

“Akan ada lebih banyak penggunaan AI dari segi kemanusiaan, seperti rumah sakit dan studi medis. Kita dapat melihat tantangan yang mendorong adaptasi teknologi lebih cepat saat pandemi corona,” kata Jia.

Pemerintah Indonesia juga mulai mengadopsi AI. Namun, kesiapan pemerintah di bawah Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand, sebagaimana tercermin pada Databoks berikut:

Head of Solutions Architect, Alibaba Cloud Indonesia Max Meiden Dasuki menambahkan, beberapa sektor sudah mulai menerapkan teknologi AI secara masif. Industri ini di antaranya teknologi finansial (fintech), e-commerce hingga retail.

“Mereka lebih mudah mengidentifikasi produk tertentu yang ada di platform (karena memakai AI),” ujar Max.

Sektor-sektor yang menggunakan AI juga terlihat pada Databoks di bawah ini:

Baca Juga:  5 Fakta AI yang Buat Perusahaan Ogah Pakai

Berdasarkan riset Alibaba DAMO Academy pun AI masuk dalam 10 teratas teknologi yang akan menjadi tren pada tahun ini. Selain itu, komputasi awan (cloud), blockchain, data intelligence, dan jaringan internet generasi kelima (5G) diramal semakin banyak digunakan.

“Kita hidup di era dengan pertumbuhan teknologi yang pesat, khususnya, generasi baru informasi dan teknologi. Ini yang diharapkan mempercepat jalannya ekonomi digital,” kata Head of Alibaba DAMO Academy dan President of Alibaba Cloud Intelligence Jeff Zhan, pada Januari lalu (11/1).

Reporter: Cindy Mutia Annur

Source link